Tuesday, 30 April 2013

Sebait Syair dari UJE Kepada Sang Bidadarinya

Isteriku.
Aku ingin tenang.

Biarkan aku tenang menghadap Khalik-ku,
Sudahi isakmu isteriku,
Aku tidaklah semu isteriku,
Bukankah berulangkali dulu kita membaca Hadist Rasulullah Shalallohu 'Alayhi Wasallam bahwa yang dinamai sabar itu adalah saat pertama kamu diberi ALLAH ujian?

Maka berhentilah menangis,
Suruhlah orang-orang itu untuk berhenti menanyakan kamu perihal suamimu,
Himbaulah mereka yang tidak mengerti itu untuk menjauhkan kamera dari wajahmu.
Itu membuat kamu dan membuat aku tidak tenang istriku.

Sampaikan terimakasih suamimu kepada mereka semua,
Siapa saja yang ikhlas berdoa untuk kebaikan aku disetiap waktu,
Cukuplah itu buatku.

Ketika kamu rindu,
Lihatlah anak-anakku,
Ketika kamu ingin kelak bertemu denganku,
Rawatlah dan didiklah anakku,
Berikan mereka tali buhul ALLAH,
Ikatkan mereka dengan itu,
Tuntunlah agama anak-anakku,
Seperti apa kehendak aku dahulu.

Isteriku..
Maafkan aku,
Maafkan telah meninggalkan beban dan amanah yang sangat berat disisimu.
Tidaklah ALLAH menimpakan sesuatu diluar batas kesanggupanmu.

ALLAH Maha Mengetahui.

Kamu itu mampu..

Ku nanti kamu dan anak-anakku dipintu syurga.


Aamiin.

Peran Bahasa dalam Berbudaya bagi Indonesia



Apa jadinya jika generasi muda Indonesia bermental ikut-ikutan; berani karena teman-temannya berani, mundur karena teman-temannya mundur? Bisa sangat disayangkan jika pemuda Indonesia yang terkenal dengan kegigihannya dalam menanggung setumpuk mata pelajaran saat SD, SMP, SMA, menjadi individu yang bahkan tidak tahu untuk apa sejatinya belajar, tanggung jawab, dan hal-hal penting lainnya. Krisis identitas sedang melanda.
Ciyus? Miapah?



Krisis Identitas dan Ciri-cirinya
            Segelintir istilah pada penutup paragraf di atas memang sekilas tampak keren, meskipun tidak diketahui secara pasti hal ihwal pembentukan kata-kata tersebut. Namun demikian, istilah asing itu cepat sekali merebak pada lingkungan sekitar. Diakui atau tidak, pemuda Indonesia sekarang dapat dikatakan sebagai generasi ikut-ikutan. Mulai dari pola bertutur dalam lingkungan masyarakat, cara berSMS, menulis singkatan, hingga meng-update status di jejaring sosial, remaja saat ini cenderung meninggalkan siapa jati diri kita sebenarnya.