Thursday, 19 January 2017

Kos, Kontrak Rumah, atau KPR?

          Kehidupan setelah menikah memang membutuhkan perhatian yang khusus. Bagaimana tidak? Menyatukan dua kemauan dalam satu tujuan itu jarang langsung bisa menemukan titik nemu. Kalau kamu dan pasangan memiliki pola pikir yang sama sejak awal, congratulations... it would be easier to drive in. Tetapi, sekali lagi, pasti ada ketidakcocokan meskipun dalam skala kecil. Aku dan suami tidak seberapa lama saling kenal. Kami memutuskan menikah dan membuat beberapa komitmen dan perjanjian. Sounds too formal, but I think it is the easiest way to live in two heads. Komitmen pertama, tentunya setia. Aku datang sebagai istrimu, dan meninggal -Insyaallah- sebagai istrimu. Begitu juga dengan dia. Setia, dan berbagai hal lainnya mencakup komitmen yang tidak perlu saya jabarkan disini. Hingga sampailah pada pembahasan perjanjian yang lucu-lucu menurutku. Kenapa lucu? Karena sebagian besar perjanjian, kebanyakan aku yang membuatnya. Hehehe.. -the power of being a woman-

          Perjanjian yang paling bikin dia pusing di awal adalah; aku nggak mau terlalu ribet ngurus rumah tangga saat tesisku belum kelar. Hahaha.. Ini sudah paten. Kami bingung mau tinggal dimana. Untuk biaya, Alhamdulillah kami masih ada tabungan kalau mau ngurus KPR atau kontrak rumah. Lalu kami survei perumahan-perumahan yang dalam jangkauan kami. Jangkauan disini bukan hanya masalah finansial, tetapi juga tentang waktu dan jarak tempuh menuju tempat kerja dan beberapa tempat publik lainnya. Daaann, belum ada yang cocok dengan kemauan kami. Perumahan itu identik dengan pengembangnya nakal atau tidak, lalu ada opsi untuk custom design atau nggak, misal kami tambah dana untuk ganti batu, pasir, dan semen dengan kualitas lebih untuk pondasi gimana? Endebrayy endebraaayyyy eplekenyes yang berakhir dengan: ih rumit ih. Kita kan juga harus segera move. Seketika kami terdiam dan mencari opsi di bawahnya: nyari kontrakan.

          Kontrakan di Kota Malang ternyata tidak semudah nyari gabah dalam tumpukan beras. *uopoooo.. Sebenernya termasuk mudah. Kami mendapat banyak sekali tawaran kontrakan. Mulai harga biasa hingga luar biasa. Hahaha.. Tapi mungkin kami saja yang rewel dan bawel. Kontrakan itu harus memenuhi syarat kami: udara bersih -karena aku ada asma-, air gimana, listrik gimana, jumlah kamar -1 kamar aja sih gak masalah-, ventilasi, kamar mandi, dapur, tempat nyuci, hingga berakhir di lingkungannya gimana. Rata-rata tersandung masalah ventilasi udara. banyak kontrakan yang pengap. Dan aku masih mikir-mikir, gimana kalau aku sesak napas tiap hari? Oh nooo.. Hingga ada satu kontrakan yang kami cocok, tapi ternyata lingkungannya tidak aman. So sad.

           Oh iya, selama pencarian itu, kami tinggal di rumah orang tuanya suami. Sekitar 40 menit perjalanan saja ke kantor kalau nggak macet (kurang lebih km). Masalahnya adalah, arah kami itu area sering macet dan jam kerja kami yang berbeda jauh. Aku masuk pagi, suami masuk siang. Aku pulang jam 3 sore, suami pulang paling cepat setelah maghrib. You know it right, I'm waiting for such duration. *sigh* Awalnya kami masih sama-sama keep kos lama kami untuk tempat menunggu. Tapi lama-lama kerasa itu borosnya buat bayar dua kosan. Dua minggu pulang pergi, akhirnya saya memutuskan untuk mencari kos rumah tangga saja. Iya, saya yang memutuskan, karena badan saya nggak sesehat suami saya dan beberapa alasan lain. Hihihi..

And, here we are, at our new boarding house <3 p=""><3 br=""> <3 br="">
           


<3 p=""><3 br="">
<3 p=""><3 br="">
<3 p=""><3 br="">

Saturday, 19 November 2016

Contento de Estar de Vuelta :D *Holaaaa, I'm Back

Holaaaaa, Amigooos :-D

I’m back. Well, not literary gone somewhere, but I did a lil escape from this blog (which is actually an excuse *giggling*). Hihihi.. Anyway, there are soooo many things happen in these few months (almost a year T.T). Those are: falling in love (part 1), proposed by someone (also part 1), planning to get married (part 1), preparing anything related to it (still part 1), drown that deep since knowing that he got sick *that serious illness* *poor me* *oh no, poor us T_T*, canceling all the things (the hall, the catering, the EVERYTHING). Huhuhu..
.
.
.
.
No, not yet end up.
.
.
.
.
Next: MOVING ON T.T, proposed by another man (part 2), thinking here and there whether I’ll go with him or not, thinking here and there whether I’ll go with him or not (12 times), thinking here and there whether I’ll go with him or not (for more than 3957984363 times T_T), aaaand finally I said YES to another man (whom today I sleep with. Hahaha..), planning for the wedding party -for about 6 months left from the proposal-, feeling doubt – agreed – feeling doubt – say yes again – convinced, preparing everything related to the ceremony and also the party, then we were in the Ijab Qabul day, being cruel to anyone, aaaaaand now I’m here; after all. *Pyuhh* *Alhamdulillaaaah*


Ladies and Gentlemen,

Thursday, 31 December 2015

Tentang Halaman Satu dari 365



          Sekelebat ke belakang, masing-masing kita pasti sudah mengambil keputusan. Dan hari ini sebagian dari kita pastinya sedang berjalan berdasar pada keputusan yang sudah diambil; sebagian lainnya mungkin sudah menjalani keputusan yang lain. Nafsi-nafsi orang bilang.

http://lifehackreads.in/wp-content/uploads/2015/07/happiness-balloons.jpg

          Postingan ini mungkin lebih membahas tentang mereka yang sekarang sedang berjalan pada keputusan yang diambil. People make a decision and grab all of the consequences upon it. Beberapa dari kita mungkin sudah berada pada puncak dari keputusan: lulus S1, lulus S2, lulus S3, menikah, punya anak, bekerja kantoran, PNS, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Sedangkan lainnya masih bergerak tertatih: maju mundur bimbingan (~baiklah yang ini curcol), sedang bekerja keras membiayai sekolahnya (~ini curcol uga. Hahaha..), bosan pada pekerjaannya yang IIS [itu-itu sajhaaa], atau bahkan ada yang sudah menyerah pada keadaan dan sedang menata diri. Apapun itu, kehidupan tidak pernah berhenti. Life never offers you a comfort zone forever

Monday, 16 March 2015

Menunggumu di Ruang Operasi

You've done your best, honey. Istirahatlah. Pasrahlah, sayang. :'-)

Wednesday, 3 September 2014

Kepada Mas Martabak Manis

          Ketahuilah bahwa manisnya hidup itu tak bisa ditakar; meski dengan timbangan besi abu-abu, di balai desa tempat para gadis membersihkan sisa gabah. Pun dengan terigu --yang menurut para pemasak-- cukup satu kilo saja untuk membuatmu utuh. Membuatmu cukup untuk menampung gula-gula dalam badanmu. Tetap kau menagih takaran. Kau butuh bilangan yang menjanjikan. Tolak ukur. Iya, aku tahu.


Anak Cucu dan Kemacetan

          Apa yang terbersit dalam pikiran kalian saat disodori pertanyaan: "Apa dampak paling menakutkan dari beranak pinaknya kendaraan bermotor?"
          Tiap individu pasti memiliki ketakutan yang berbeda. Variasi jawabannya bisa mewakili kepentingan pribadi, hingga negara. Keluhan pribadi bisa jadi semakin parah penyakit yang menyerang paru-paru sehingga memerlukan biaya berobat yang tidak sedikit, hingga risih, macet, pusing, yang masih bersifat individual. Dan hal ini dengan mudahnya ditangkas oleh para pengemudi kendaraan bermotor bahwa asap kendaraan tak semenakutkan asap rokok, macet itu dinikmati saja. Pusing? Itu urusanmu sendiri. Gue mah ogah ngurusin orang.

Parkiran motor di kampus-kampus di Indonesia

Wednesday, 20 August 2014

Life is too short

          My life is normal; it is like a blanket that's too short for a bed -- sometimes it covers you just fine, and other times it leaves you cold and shaking; and worst of all. We never know which of the two it's going to be.

          Aku mengagumi cerminan diriku sendiri pada kaca rias lemari tempatku menyimpan baju-baju pestaku. Gaun-gaun ragam warna semi hingga dingin. Gaun yang bercerita musim demi musim kulalui; tanpamu. Aku tak pernah menyimpan topeng disana. Sudah kubuang semua hal yang selalu merusak nafas kamar kita. Aku selalu merias diriku dengan pink, tosca, bahkan pelangi. Dan aku selalu menikmati saat-saat kau merajuk, memanjaku dengan menyematkan jenar di gaunku. Aku cantik, katamu.

          Malam ini aku memakai gaun dengan warna tak-semua-orang-suka. Long dress kuning dengan titik-titik merah di bagian bawah. Dihias dengan rerenda putih pula. Tentunya kakiku makin tampak jenjang, dan anggun. Kupakai sabuk hitam manis pemberianmu di pinggangku. Kamu sangat suka bagian pinggulku tampak seksi. Ya, sepertiku malam ini. Menawan. Aku mengagumi diriku sendiri.

          Baru kusadar jika warna kuning ini tak baik untuk kesehatanku. Aku sakit. Aku tidak percaya diri. Aku depresi. Ada apa ini. Padahal harusnya aku ini model profesional yang selalu tampak menawan di tiap langkahnya. Ah, aku harus pulang. Aku rindu pelukmu. Aku rindu kritik pedasmu tentang bagaimana seharusnya aku. Aku rindu anak-anak kita, A. Aku rindu kamu. Aku pulang, ya.

          Sesampai di rumah, sambut aku dengan gaun tercantik untukku ya. Dengan senyummu yang khas. Dengan ciummu yang kirindu. Dengan pandang matamu mengagumiku selalu. Aku pulang, A-ku.



Friday, 15 August 2014

Mengurai Langkah dan Bayangan


          Teruntuk kegagapanku, aku berterimakasih. Tanpa memahami diriku sendiri, tak mungkin aku bisa memahami orang lain. Walau aku masih terlalu sering memasang ego saat hendak kecelakaan. Aku menyelamatkan diriku sendiri. Defensive. Mungkin itu definisi malam pada jarak yang menyamarkan rembulan. Aku kini semakin sayang pada diriku sendiri. Ini fase 'satu'.

          Melangkahlah aku pada fase 'dua'. Dimana A bukan lagi sekedar A. A kini adalah A yang... Ah, asli, jernih, genuine, makna sebenarnya. A adalah bilangan yang kukenalkan pada anak-anak manusia sebagai pasanganku, yang juga A. Hihihi.. Unik memang. Kami bagai cermin. Aku melihat diriku pada dirinya. Sehingga saat marah, kangen, sedih, tertawa, kami tak pernah mendusta. Dia pun selalu mengikuti upacara hari-hari yang kami tentukan sendiri untuk diperingati, sebagai kepala suku tentunya. Dan aku selalu bangga bisa menjadi bagian dari kepala suku. Aku tak pernah diposisikan sebagai wakil. Itu yang membuatku sangat menghargai dan menghormatinya. Aku yang 'terlalu mandiri', dilatih untuk kemudian menjadi pribadi yang menghargai pasangan itu ada sebagai 'pasangan'. Bukan untuk bongkar pasang, dibongkar ketika tidak butuh, dipasangan ketika butuh. Aku sangat bahagia mendampingi A yang tidak pernah menganggap hubungan ini main-main. Atau menganggap aku mainan. Rerata lelaki seperti itu. Padaku. Hukum ini tidak berlaku untuk wanita lain. Jadi, jangan tersinggung jika aku terlalu memuji A-ku and bring myself into the sky. Ulaalaaa~

          Fase 'tiga'. Ini tidak berat. Ini pun tak mudah. Berkali yang kami ingat adalah istilah "ojo nggege mongso". Bahkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Maka, kami terus memperbaiki diri dan bayangan. Agar kiranya jika waktu terindah kami tiba, tak ada yang terganggu dengan bayang-bayang kami. Agar pun jika waktu terpanas kami tiba, bebayang kami pun hanya memberatkan diri kami, tak membebani B, C, D, ...., Z. Apalagi ketika malam kami beradu, tak ada berisik hingga tetangga terdekat tau. Ah, kau imamku, sayang. Aku cinta.

          'Empat', bilangan yang tak pernah kami duga. Pelangi muncul setelah hujan di waktu terik. Sangat melegakan. Sangat indah. Sakinah, mawaddah, warrohmah itu bukan sekadar istilah. Itu ada. Kami membuktikan itu.Adapun sabar selalu berbuah manis. Adapun kedewasaan selalu berawal dari belajar. Tak perlu kami menyebut bibit apa saja yang kami usahakan. Toh nanti juga akan berbuah, dan semoga buah itu manis, karena benihnya dari pohon yang manis-manis. Ah, bittersweet. Itu pewarna. Yang pasti kami belajar banyak untuk meracik, memasak, agar nantinya ceria anak cucu kami yang meneruskan pada dunia, bagaimana kami saling mencinta. A-mu dan A-ku. Sayang, ayo lari lagi. Orang tua tak selamanya berusia 50. Dan malam tak pernah benar-benar mengirimkan surat terbuka akan kedatangannya. Mari genggam bersama senyum dan harap orang-orang tercinta. Eling, nak. Kowe wes gedhe lho. Ah, ibuk, bapak, papa, mama. Peluk hangat kami untuk kalian. Semoga cinta kalian bisa kami teruskan pada anak cucu nanti. Semoga semakin hangat, semakin dalam, semakin merasuk bermanfaat bagi semesta.

          Bilangan 'lima'. A-ku dan A-mu sedang melangkahkan kaki. Bismillah..


Monday, 12 May 2014

Lari, Terengah-engah, dan Pulang

          Hidup, mempunyai definisi sendiri-sendiri, bergantung pada apa yang kita yakini. Seorang sutradara memaknai hidup selaksa panggung sandiwara: komedi-tragis. Seorang pelari mengatakan hidup adalah tempat untuk berlari. Maka berlarilah, selagi kamu mampu. Garis finish menurut pelari juga berbeda-beda. Ada yang mengatakan, aku sudah tak sanggup bernafas, maka aku sudah sampai pada finish-ku. Ada pula yang bilang, tiga perempat rute ini kulalui, setelah itu aku pulang. Ada yang teguh berkeyakinan bahwa garis finish adalah tujuan akhir seorang pelari yang disebut sebagai pemenang.
         
          Bagi beberapa orang, lari merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bagi kebanyakan orang, lari itu kegiatan yang hanya bikin tubuh lelah. Lari. Ah.. Aku suka dengan kalimat temanku: Aku, separuh pelari, separuh pejalan kaki. Iya, kadang kita lari hingga terengah-engah, lupa akan jalan kaki. Jalan kaki saja lupa, apa lagi untuk pulang. Hehehe..

          Jika ada yang memaknai hidup seperti pelari, maka peganglah dengan erat apa yang kau yakini. Karena pada dasarnya tak ada lari yang berakhir pada ketiadaan. Semua berbalas.


Sunday, 2 March 2014

Yang membedakan antara orang-orang yang bahagia dan yang tidak adalah bahwa mereka, orang-orang yang bahagia, memilih apa yang ingin mereka pilih. -- Bahauddin