Kehidupan setelah menikah memang membutuhkan perhatian yang khusus. Bagaimana tidak? Menyatukan dua kemauan dalam satu tujuan itu jarang langsung bisa menemukan titik nemu. Kalau kamu dan pasangan memiliki pola pikir yang sama sejak awal, congratulations... it would be easier to drive in. Tetapi, sekali lagi, pasti ada ketidakcocokan meskipun dalam skala kecil. Aku dan suami tidak seberapa lama saling kenal. Kami memutuskan menikah dan membuat beberapa komitmen dan perjanjian. Sounds too formal, but I think it is the easiest way to live in two heads. Komitmen pertama, tentunya setia. Aku datang sebagai istrimu, dan meninggal -Insyaallah- sebagai istrimu. Begitu juga dengan dia. Setia, dan berbagai hal lainnya mencakup komitmen yang tidak perlu saya jabarkan disini. Hingga sampailah pada pembahasan perjanjian yang lucu-lucu menurutku. Kenapa lucu? Karena sebagian besar perjanjian, kebanyakan aku yang membuatnya. Hehehe.. -the power of being a woman-
Perjanjian yang paling bikin dia pusing di awal adalah; aku nggak mau terlalu ribet ngurus rumah tangga saat tesisku belum kelar. Hahaha.. Ini sudah paten. Kami bingung mau tinggal dimana. Untuk biaya, Alhamdulillah kami masih ada tabungan kalau mau ngurus KPR atau kontrak rumah. Lalu kami survei perumahan-perumahan yang dalam jangkauan kami. Jangkauan disini bukan hanya masalah finansial, tetapi juga tentang waktu dan jarak tempuh menuju tempat kerja dan beberapa tempat publik lainnya. Daaann, belum ada yang cocok dengan kemauan kami. Perumahan itu identik dengan pengembangnya nakal atau tidak, lalu ada opsi untuk custom design atau nggak, misal kami tambah dana untuk ganti batu, pasir, dan semen dengan kualitas lebih untuk pondasi gimana? Endebrayy endebraaayyyy eplekenyes yang berakhir dengan: ih rumit ih. Kita kan juga harus segera move. Seketika kami terdiam dan mencari opsi di bawahnya: nyari kontrakan.
Kontrakan di Kota Malang ternyata tidak semudah nyari gabah dalam tumpukan beras. *uopoooo.. Sebenernya termasuk mudah. Kami mendapat banyak sekali tawaran kontrakan. Mulai harga biasa hingga luar biasa. Hahaha.. Tapi mungkin kami saja yang rewel dan bawel. Kontrakan itu harus memenuhi syarat kami: udara bersih -karena aku ada asma-, air gimana, listrik gimana, jumlah kamar -1 kamar aja sih gak masalah-, ventilasi, kamar mandi, dapur, tempat nyuci, hingga berakhir di lingkungannya gimana. Rata-rata tersandung masalah ventilasi udara. banyak kontrakan yang pengap. Dan aku masih mikir-mikir, gimana kalau aku sesak napas tiap hari? Oh nooo.. Hingga ada satu kontrakan yang kami cocok, tapi ternyata lingkungannya tidak aman. So sad.
Oh iya, selama pencarian itu, kami tinggal di rumah orang tuanya suami. Sekitar 40 menit perjalanan saja ke kantor kalau nggak macet (kurang lebih km). Masalahnya adalah, arah kami itu area sering macet dan jam kerja kami yang berbeda jauh. Aku masuk pagi, suami masuk siang. Aku pulang jam 3 sore, suami pulang paling cepat setelah maghrib. You know it right, I'm waiting for such duration. *sigh* Awalnya kami masih sama-sama keep kos lama kami untuk tempat menunggu. Tapi lama-lama kerasa itu borosnya buat bayar dua kosan. Dua minggu pulang pergi, akhirnya saya memutuskan untuk mencari kos rumah tangga saja. Iya, saya yang memutuskan, karena badan saya nggak sesehat suami saya dan beberapa alasan lain. Hihihi..
And, here we are, at our new boarding house <3 p=""><3 br="">
<3 br="">
3>3>3>
<3 p=""><3 br="">3>3>
<3 p=""><3 br="">3>3>
<3 p=""><3 br="">3>3>
Perjanjian yang paling bikin dia pusing di awal adalah; aku nggak mau terlalu ribet ngurus rumah tangga saat tesisku belum kelar. Hahaha.. Ini sudah paten. Kami bingung mau tinggal dimana. Untuk biaya, Alhamdulillah kami masih ada tabungan kalau mau ngurus KPR atau kontrak rumah. Lalu kami survei perumahan-perumahan yang dalam jangkauan kami. Jangkauan disini bukan hanya masalah finansial, tetapi juga tentang waktu dan jarak tempuh menuju tempat kerja dan beberapa tempat publik lainnya. Daaann, belum ada yang cocok dengan kemauan kami. Perumahan itu identik dengan pengembangnya nakal atau tidak, lalu ada opsi untuk custom design atau nggak, misal kami tambah dana untuk ganti batu, pasir, dan semen dengan kualitas lebih untuk pondasi gimana? Endebrayy endebraaayyyy eplekenyes yang berakhir dengan: ih rumit ih. Kita kan juga harus segera move. Seketika kami terdiam dan mencari opsi di bawahnya: nyari kontrakan.
Kontrakan di Kota Malang ternyata tidak semudah nyari gabah dalam tumpukan beras. *uopoooo.. Sebenernya termasuk mudah. Kami mendapat banyak sekali tawaran kontrakan. Mulai harga biasa hingga luar biasa. Hahaha.. Tapi mungkin kami saja yang rewel dan bawel. Kontrakan itu harus memenuhi syarat kami: udara bersih -karena aku ada asma-, air gimana, listrik gimana, jumlah kamar -1 kamar aja sih gak masalah-, ventilasi, kamar mandi, dapur, tempat nyuci, hingga berakhir di lingkungannya gimana. Rata-rata tersandung masalah ventilasi udara. banyak kontrakan yang pengap. Dan aku masih mikir-mikir, gimana kalau aku sesak napas tiap hari? Oh nooo.. Hingga ada satu kontrakan yang kami cocok, tapi ternyata lingkungannya tidak aman. So sad.
Oh iya, selama pencarian itu, kami tinggal di rumah orang tuanya suami. Sekitar 40 menit perjalanan saja ke kantor kalau nggak macet (kurang lebih km). Masalahnya adalah, arah kami itu area sering macet dan jam kerja kami yang berbeda jauh. Aku masuk pagi, suami masuk siang. Aku pulang jam 3 sore, suami pulang paling cepat setelah maghrib. You know it right, I'm waiting for such duration. *sigh* Awalnya kami masih sama-sama keep kos lama kami untuk tempat menunggu. Tapi lama-lama kerasa itu borosnya buat bayar dua kosan. Dua minggu pulang pergi, akhirnya saya memutuskan untuk mencari kos rumah tangga saja. Iya, saya yang memutuskan, karena badan saya nggak sesehat suami saya dan beberapa alasan lain. Hihihi..
3>3>3>
<3 p=""><3 br="">3>3>
<3 p=""><3 br="">3>3>
<3 p=""><3 br="">3>3>








