Showing posts with label Indonesian version. Show all posts
Showing posts with label Indonesian version. Show all posts

Monday, 12 May 2014

Lari, Terengah-engah, dan Pulang

          Hidup, mempunyai definisi sendiri-sendiri, bergantung pada apa yang kita yakini. Seorang sutradara memaknai hidup selaksa panggung sandiwara: komedi-tragis. Seorang pelari mengatakan hidup adalah tempat untuk berlari. Maka berlarilah, selagi kamu mampu. Garis finish menurut pelari juga berbeda-beda. Ada yang mengatakan, aku sudah tak sanggup bernafas, maka aku sudah sampai pada finish-ku. Ada pula yang bilang, tiga perempat rute ini kulalui, setelah itu aku pulang. Ada yang teguh berkeyakinan bahwa garis finish adalah tujuan akhir seorang pelari yang disebut sebagai pemenang.
         
          Bagi beberapa orang, lari merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bagi kebanyakan orang, lari itu kegiatan yang hanya bikin tubuh lelah. Lari. Ah.. Aku suka dengan kalimat temanku: Aku, separuh pelari, separuh pejalan kaki. Iya, kadang kita lari hingga terengah-engah, lupa akan jalan kaki. Jalan kaki saja lupa, apa lagi untuk pulang. Hehehe..

          Jika ada yang memaknai hidup seperti pelari, maka peganglah dengan erat apa yang kau yakini. Karena pada dasarnya tak ada lari yang berakhir pada ketiadaan. Semua berbalas.


Saturday, 17 August 2013

Hening, dan A Belajar

          Bersamamu mungkin masih sewarsa, namun banyak hal yang bisa dipelajari. Mulai dari bagaimana caraku harus menatapmu, berbicara, tersenyum yang kau suka, menyampaikan pendapatmu dengan suaraku, hingga akhirnya semua yang sebenar-benarnya tentangku sudah berubah menjadi 'aku yang kamu'. Kamu yang manja, yang tegas, yang bijaksana, yang gemar menawarkan canda di awal, ternyata sebenar-benarnya bukan begitu. Kamu ternyata, ah kamu.

          Sangat mengejutkan ketika dirimu yang sebenarnya datang, dan menyapa pagiku yang sudah kulukis dengan awan putih-putih dalam bentuk senyum. Senyum yang kau suka. Tiba-tiba aku sudah tidak mengenali dirimu lagi. Entah kau kemanakan jaket yang biasa kau pakai, tas yang biasa kau tenteng, dan matahari yang biasa menyelimuti kulitmu?

          Ah, aku belajar mengenai komitmen. Aku belajar mengenai tanggung jawab. Aku belajar tentang bagaimana harus hidup dan bersikap. Semoga kau juga.

          Aku suka kamu yang dulu. A.

Friday, 2 August 2013

Selamat Datang, A!

          A mulai belajar mencintai hidupnya. Perihal pasangannya, dia mulai mereka-reka bagaimana hidup akan berjalan, selanjutnya. Selancar eskalator yang baru dipasang di mall-mall Indonesia -- mungkin. A tak pernah tahu kemana angin dari Tuhan meniupkan nasibnya, hingga beberapa saat lampau ia pernah menabrak karang-karang di laut. Tabrakan itu membawa luka, tentunya bagi para lelaki yang mengidamkannya. Entahlah, ia terkadang merasa hidup itu tak adil.
       
          A mempunyai pasangan yang entah kenapa ia tidak suka. Akhir-akhir ini saja. Mungkin karena ia tidak pernah menyapa bagian hati terdalam partnernya itu, atau mungkin leluka bekas hembusan karang itu membuatnya takut. Ya, ia trauma.




          Lirih, ia bertanya pada sepi yang akhir-akhir ini menemaninya. Apa sebenarnya ia inginkan? Kenikmatan semata? Kenyamanan? Pernah ia membaca, "Hubungan baru itu selalu lebih menyenangkan. Itulah ketidakadilan." Sejak itu ia merasa bahwa ia sudah berbuat tidak adil. Ia sudah tidak adil pada pasangannya. Ia membohongi bagaimana kenyamanan yang diinginkannya. Ia juga secara tidak langsung sudah berlaku tidak adil pada dirinya sendiri. Ia merasa mempermainkan nafsu dan nuraninya. Ia belum menemukan apa yang dimaksud kebanyakan orang dengan 'cinta' ataupun 'sayang'. Entahlah, apapun yang terjadi kelak, memang manusiawi. Manusia terdiri dari kromosom x dan y. Kromosom autosom dan seks. Sudah manusiawi jika manusia akan bersinggungan dengan sifat dan seks manusia lainnya. Menyamaratakan perlakuan? Boleh lah.. Berarti yang akan terjadi hanya 'A akan memperlakukan pasangannya seperti manusia kebanyakan. Tidak lebih.' Bukankah yang diistimewakan hanya Tuhan?


Bisik Si A

          Aku menegakkan apa yang kusebut dengan prinsip. Aku mempunyai hak dan kewajiban, begitu pula kamu. Untuk itu, aku sangat menginginkan yang namanya privasi. Entah privasi dalam hal apapun. Aku juga berhak untuk memilih siapa saja teman yang kusuka, begitu pula teman-temanmu. Tak semuanya kusuka. Aku manusiawi, bukan? Aku bukan Tuhan.

          Aku memutuskan untuk tidak menikah. Atau mungkin tidak menikah dalam jangka waktu dekat. Mengingat tidak semua sikap dan sifatmu bisa kuterima. Aku hanya menikah pada orang yang sepaham denganku. Bukan yang -kejawen- sepertimu. Jika kehangatan keluarga tak ingin kau sesap, jangan ajak aku untuk berdingin durja. Aku tak ingin seumur hidupku berdingin-dingin dalam bungkaman kutub selatan yang bahkan belum pernah kau jelajahi.

          Selamat datang, pria lajang. Selamat datang di kehidupan seorang wanita yang sebenarnya tak ingin sendiri, namun ia enggan berbagi dengan "banyak". Selamat datang, tiga rumah dengan tuannya yang familiar. Selamat datang, Rumah kesatu! Pondok hidupku. Selamat datang, Rumah kedua! Hunian autismu.

          Selamat datang, Rumah ketiga! Tempat berteduh kita berdua, dan rahasia-rahasia kecil kita.

Saturday, 20 July 2013

Mencukupkan: Tuhan, Keplak Ia dengan Sandal-Mu

           Possessive, maunya menang sendiri, maunya diperhatikan terus, manja, tapi sok tegar, itu semua sifat-sifat yang tidak baik. Ditambah lagi dengan sifat keras yang sudah mendarah daging.

          Akhir-akhir ini aku mulai gila, capek, dengan segala sesuatu yang berbau "Nusantara". Atau yang minimal digaungkan dengan kalimat --> Persiapan Pembangunan Nusantara. Capek, karena memang konsepan mereka tidak jelas. Arahnya kemana juga ndak jelas. Dan yang makin bikin capek itu: My partner is involved there!!
       



          Aku nggak tau musti gimana. Berkata apapun yang kutahu juga percuma. Selalu ada alasan untuknya membolak-balikkan apa yang nyata dan tampak. Sudah bisa dipastikan; ia hanya belum bisa menerima kenyataan hari ini.

          Memang seharusnya aku berhenti mencampuri urusan hidupnya. Memang seharusnya aku berhenti mengontrol apa yang ia kehendaki. Memang seharusnya aku mencukupkan. Tapi, bukankah seharusnya pula ia mencukupkan?



Tuhan, keplak ia dengan sandal-Mu. Tolong. T.T

Wednesday, 1 May 2013

Selalu Ada Tempat untukmu Pulang

           Perempuan itu makhluk yang sungguh lucu. Tak mau disakiti, tapi memilih untuk diam saat sakit. Terus, yang laki-laki bisa bantu apa? :-D

Dududuh, gak kebayang. Ngurus rumah, ketambahan kerja, ditinggal kerja, nyoba ngerawat tubuh dan penampilan, belum sakit pre-mens tiap bulan, belum pas hamil, belum pas melahirkan.., and finally, ditinggal selingkuh.

Well, life is simply like this. Tersenyumlah.. Tersenyumlah. Perempuan ini selalu memberimu tempat untuk berpulang, wahai lelakiku.


Selalu ada maaf, untukmu.

Tuesday, 30 April 2013

Sebait Syair dari UJE Kepada Sang Bidadarinya

Isteriku.
Aku ingin tenang.

Biarkan aku tenang menghadap Khalik-ku,
Sudahi isakmu isteriku,
Aku tidaklah semu isteriku,
Bukankah berulangkali dulu kita membaca Hadist Rasulullah Shalallohu 'Alayhi Wasallam bahwa yang dinamai sabar itu adalah saat pertama kamu diberi ALLAH ujian?

Maka berhentilah menangis,
Suruhlah orang-orang itu untuk berhenti menanyakan kamu perihal suamimu,
Himbaulah mereka yang tidak mengerti itu untuk menjauhkan kamera dari wajahmu.
Itu membuat kamu dan membuat aku tidak tenang istriku.

Sampaikan terimakasih suamimu kepada mereka semua,
Siapa saja yang ikhlas berdoa untuk kebaikan aku disetiap waktu,
Cukuplah itu buatku.

Ketika kamu rindu,
Lihatlah anak-anakku,
Ketika kamu ingin kelak bertemu denganku,
Rawatlah dan didiklah anakku,
Berikan mereka tali buhul ALLAH,
Ikatkan mereka dengan itu,
Tuntunlah agama anak-anakku,
Seperti apa kehendak aku dahulu.

Isteriku..
Maafkan aku,
Maafkan telah meninggalkan beban dan amanah yang sangat berat disisimu.
Tidaklah ALLAH menimpakan sesuatu diluar batas kesanggupanmu.

ALLAH Maha Mengetahui.

Kamu itu mampu..

Ku nanti kamu dan anak-anakku dipintu syurga.


Aamiin.

Peran Bahasa dalam Berbudaya bagi Indonesia



Apa jadinya jika generasi muda Indonesia bermental ikut-ikutan; berani karena teman-temannya berani, mundur karena teman-temannya mundur? Bisa sangat disayangkan jika pemuda Indonesia yang terkenal dengan kegigihannya dalam menanggung setumpuk mata pelajaran saat SD, SMP, SMA, menjadi individu yang bahkan tidak tahu untuk apa sejatinya belajar, tanggung jawab, dan hal-hal penting lainnya. Krisis identitas sedang melanda.
Ciyus? Miapah?



Krisis Identitas dan Ciri-cirinya
            Segelintir istilah pada penutup paragraf di atas memang sekilas tampak keren, meskipun tidak diketahui secara pasti hal ihwal pembentukan kata-kata tersebut. Namun demikian, istilah asing itu cepat sekali merebak pada lingkungan sekitar. Diakui atau tidak, pemuda Indonesia sekarang dapat dikatakan sebagai generasi ikut-ikutan. Mulai dari pola bertutur dalam lingkungan masyarakat, cara berSMS, menulis singkatan, hingga meng-update status di jejaring sosial, remaja saat ini cenderung meninggalkan siapa jati diri kita sebenarnya.