Tuesday, 30 April 2013

Peran Bahasa dalam Berbudaya bagi Indonesia



Apa jadinya jika generasi muda Indonesia bermental ikut-ikutan; berani karena teman-temannya berani, mundur karena teman-temannya mundur? Bisa sangat disayangkan jika pemuda Indonesia yang terkenal dengan kegigihannya dalam menanggung setumpuk mata pelajaran saat SD, SMP, SMA, menjadi individu yang bahkan tidak tahu untuk apa sejatinya belajar, tanggung jawab, dan hal-hal penting lainnya. Krisis identitas sedang melanda.
Ciyus? Miapah?



Krisis Identitas dan Ciri-cirinya
            Segelintir istilah pada penutup paragraf di atas memang sekilas tampak keren, meskipun tidak diketahui secara pasti hal ihwal pembentukan kata-kata tersebut. Namun demikian, istilah asing itu cepat sekali merebak pada lingkungan sekitar. Diakui atau tidak, pemuda Indonesia sekarang dapat dikatakan sebagai generasi ikut-ikutan. Mulai dari pola bertutur dalam lingkungan masyarakat, cara berSMS, menulis singkatan, hingga meng-update status di jejaring sosial, remaja saat ini cenderung meninggalkan siapa jati diri kita sebenarnya.


            Banyak yang berasumsi bahwa dengan meng-update status dengan format serius, maka individu yang memposting status itu juga di cap sebagai orang yang serius. Yang memposting dengan bijaksana, maka dianggap sebagai orang yang bijaksana. Yang memposting dengan kata-kata kotor, berarti orangnya juga kotor (ups).
            Lalu, kemana “kita” yang sebenarnya? Jawabannya hanya satu: tersembunyi di dalam ketidakpercayaan atas diri kita sendiri, bahwa tiap individu dianugerahi kelebihan-kelebihan yang berbeda dan istimewa. Bahwasanya potensi tersebut bersembunyi dibalik tren masyarakat yang lebih akrab dikoar-koarkan oleh bintang iklan, pemain sinetron, dsb. Karakter tiap individu akhirnya terpoles oleh avatar-avatar dengan title “keren” yang dikampanyekan pegiat seni di media. Jadilah pemuda yang sekarang, tidak sadar siapa dirinya, apa kewajibannya, dan bagaimana seharusnya bersikap di lingkungan yang seperti apa.

Penggunaan Bahasa Mempengaruhi Budaya
            Disadari atau tidak, bahasa dan budaya saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh perbandingan kekayaan bahasa jawa dengan bahasa inggris. Jawa dengan kekayaan bahasa yang berstrata menunjukkan adanya tingkat kesopanan dalam bertutur kepada lawan bicara. Contohnya, memakai bahasa Jawa halus untuk berbicara pada yang lebih tua dan memakai bahasa Jawa standar untuk berbicara dengan yang seumuran atau yang lebih muda. Lain halnya dengan bahasa Inggris dimana penyebutan kata “you” ditujukan kepada semua pihak. Dalam hal ini, budaya dan tingkah laku masyarakat dapat terlihat.
            Bagaimana dengan lahirnya istilah-istilah baru? Tentunya secara tidak langsung akan membentuk budaya baru, pun kepribadiannya. Budaya untuk terkesan ‘galau’ dalam menghadapi masalah, lebih cuek (terkait dengan penggunaan istilah “terus gue harus bilang wow gitu?”), ataupun budaya lepas tangan atau cenderung tidak peka terhadap lingkungan sekitar (terkait dengan istilah “Masalah buat loe?”), dan ironisnya, tren kata-kata tersebut semakin popular digunakan remaja saat ini. Entah sebagai trendsetter maupun follower, yang jelas, merebaknya kata-kata itu turut mempengaruhi kepribadian dan pola pikir masyarakat.

Menurut ahli kejiwaan
            Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Banyak sekali eksperimen yang dilakukan untuk terlihat lebih keren. Contohnya, beberapa orang memang terlihat imut saat memplesetkan ungkapan “serius, demi apa” menjadi “ciyus, miapah”. Karena terlihat keren, maka banyak yang ikut-ikutan dan sekarang mudah sekali menemukan orang berkata “ciyus miapah” di berbagai tempat. Beberapa saat yang lalu, ungkapan “Alhamdulillah yah, sesuatuuh..”, “prikitieww” juga sempat booming di dunia remaja.
Kecenderungan untuk ikut-ikutan, kadang tanpa tahu maknanya, sering dilabeli dengan istilah “alay” yang konon merupakan singkatan dari ‘anak layangan’. Sama seperti “ciyus miapah”, sebenarnya istilah alay sendiri juga produk ikut-ikutan karena tidak jelas apa maknanya.
Terkait hal tersebut, dr. Suzy Yusna Dewi SpKJ(K) dari RS Jiwa Soeharto Heerdjan Grogol berkomentar, “Jika bangga dengan predikat alay itu yang krisis identitas karena dia tidak bisa menentukan pilihan, jadi hanya sekedar mengikuti mainstream supaya diakui teman-temannya.” (detikHealth, Rabu, 24/10/2012).
“Memang berlebihan untuk dikatakan sebagai gangguan jiwa, namun krisis identitas bisa memicu kerentanan untuk mengalaminya. Terlebih, para remaja yang mengalami krisis identitas umumnya memiliki masalah dengan latar belakang emosional, misalnya mudah cemas dan tidak percaya diri,” imbuhnya.
Masih menurut beliau, latar belakang dari remaja yang sering dilanda krisis identitas antara lain karena pola asuh yang salah dari orang tua selama di rumah adalah penyebab yang dominan. Misalnya sejak kecil dididik dengan terlalu permisif, apa-apa diperbolehkan lalu akhirnya tidak terbentuk ketahanan terhadap berbagai permasalahan saat bersosialisasi. Adapun ciri-ciri dari remaja krisis identitas yakni cenderung lebih labil, mudah ikut-ikutan dan terpengaruh oleh lingkungan. Meski tidak selalu jadi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, faktor resiko ini bisa memicu gangguan jiwa lainnya seperti gangguan emosi maupun tingkah laku. Tawuran adalah contoh konkritnya [AN Uyung Pramudiarja – detikHealth].

Peran Media dalam Menghadapinya
            Media, mau tidak mau, adalah pemegang kendali utama dalam krisis identitas ini. Jika tidak mau disalahkan, berarti filter dari dalam individu itu sendiri yang tidak kuat dalam menyaring apa-apa yang “real me”. Media mengumbar istilah-istilah aneh kepada masyarakat, mengumbar identitas-identitas ‘ideal’ yang justru menghilangkan kepercayadirian individu dalam mengeksplor identitas asli mereka. Menenggelamkan identitas dengan cerminan bahwa cantik itu idealnya seperti si A, si B, dsb. Bahwasanya imut itu seperti Omez dalam mengatakan “ciyus miapah”, dan sebagainya. Hingga akhirnya hilang jati diri seorang A dari desa B. A menjadi sosok artis di desanya yang belum tentu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat di desa tersebut. Lantas, apa yang harus dilakukan?
Media sudah seharusnya menyuguhkan hal-hal yang memang natural dan ‘apa seharusnya’. Memberi contoh bagaimana seharusnya bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Bukan malah dengan menyuguhkan hal-hal yang di luar ranah pendidikan karakter. Dalam hal ini, daya bius media  sangat besar. Jaman dahulu, di televisi dicontohkan bagaimana cara duduk, berbicara, berjalan yang sopan dan bagaimana orang jahat dihukum layaknya penjahat. Lirik-lirik lagu yang diputar juga tidak sedramatis sekarang, hingga sering terjadi gap antara generasi tua dan generasi muda.

Jadilah cerminan yang baik bagi sejawat.

Ciyus? Miapah? Ya demi Bangsa Indonesia sendiri pastinya.

0 comments:

Post a Comment