Apa jadinya jika generasi
muda Indonesia bermental ikut-ikutan; berani karena teman-temannya berani,
mundur karena teman-temannya mundur? Bisa sangat disayangkan jika pemuda
Indonesia yang terkenal dengan kegigihannya dalam menanggung setumpuk mata
pelajaran saat SD, SMP, SMA, menjadi individu yang bahkan tidak tahu untuk apa
sejatinya belajar, tanggung jawab, dan hal-hal penting lainnya. Krisis
identitas sedang melanda.
Ciyus? Miapah?
Krisis Identitas dan Ciri-cirinya
Segelintir istilah pada penutup
paragraf di atas memang sekilas tampak keren, meskipun tidak diketahui secara
pasti hal ihwal pembentukan kata-kata tersebut. Namun demikian, istilah asing
itu cepat sekali merebak pada lingkungan sekitar. Diakui atau tidak, pemuda
Indonesia sekarang dapat dikatakan sebagai generasi ikut-ikutan. Mulai dari
pola bertutur dalam lingkungan masyarakat, cara berSMS, menulis singkatan,
hingga meng-update status di jejaring
sosial, remaja saat ini cenderung meninggalkan siapa jati diri kita sebenarnya.
Banyak yang berasumsi bahwa dengan
meng-update status dengan format
serius, maka individu yang memposting status itu juga di cap sebagai orang yang
serius. Yang memposting dengan bijaksana, maka dianggap sebagai orang yang
bijaksana. Yang memposting dengan kata-kata kotor, berarti orangnya juga kotor
(ups).
Lalu, kemana “kita” yang sebenarnya?
Jawabannya hanya satu: tersembunyi di dalam ketidakpercayaan atas diri kita
sendiri, bahwa tiap individu dianugerahi kelebihan-kelebihan yang berbeda dan
istimewa. Bahwasanya potensi tersebut bersembunyi dibalik tren masyarakat yang
lebih akrab dikoar-koarkan oleh bintang iklan, pemain sinetron, dsb. Karakter
tiap individu akhirnya terpoles oleh avatar-avatar dengan title “keren” yang
dikampanyekan pegiat seni di media. Jadilah pemuda yang sekarang, tidak sadar
siapa dirinya, apa kewajibannya, dan bagaimana seharusnya bersikap di
lingkungan yang seperti apa.
Penggunaan Bahasa Mempengaruhi Budaya
Disadari
atau tidak, bahasa dan budaya saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh
perbandingan kekayaan bahasa jawa dengan bahasa inggris. Jawa dengan kekayaan
bahasa yang berstrata menunjukkan adanya tingkat kesopanan dalam bertutur
kepada lawan bicara. Contohnya, memakai bahasa Jawa halus untuk berbicara pada
yang lebih tua dan memakai bahasa Jawa standar untuk berbicara dengan yang
seumuran atau yang lebih muda. Lain halnya dengan bahasa Inggris dimana
penyebutan kata “you” ditujukan kepada semua pihak. Dalam hal ini, budaya dan
tingkah laku masyarakat dapat terlihat.
Bagaimana dengan lahirnya
istilah-istilah baru? Tentunya secara tidak langsung akan membentuk budaya
baru, pun kepribadiannya. Budaya untuk terkesan ‘galau’ dalam menghadapi
masalah, lebih cuek (terkait dengan penggunaan istilah “terus gue harus bilang
wow gitu?”), ataupun budaya lepas tangan atau cenderung tidak peka terhadap
lingkungan sekitar (terkait dengan istilah “Masalah buat loe?”), dan ironisnya,
tren kata-kata tersebut semakin popular digunakan remaja saat ini. Entah
sebagai trendsetter maupun follower, yang jelas, merebaknya kata-kata itu turut
mempengaruhi kepribadian dan pola pikir masyarakat.
Menurut ahli kejiwaan
Masa
remaja adalah masa pencarian jati diri. Banyak sekali eksperimen yang dilakukan
untuk terlihat lebih keren. Contohnya, beberapa orang memang terlihat imut saat
memplesetkan ungkapan “serius, demi apa” menjadi “ciyus, miapah”. Karena
terlihat keren, maka banyak yang ikut-ikutan dan sekarang mudah sekali
menemukan orang berkata “ciyus miapah” di berbagai tempat. Beberapa saat yang
lalu, ungkapan “Alhamdulillah yah, sesuatuuh..”, “prikitieww” juga sempat booming di dunia remaja.
Kecenderungan
untuk ikut-ikutan, kadang tanpa tahu maknanya, sering dilabeli dengan istilah
“alay” yang konon merupakan singkatan dari ‘anak layangan’. Sama seperti “ciyus
miapah”, sebenarnya istilah alay sendiri juga produk ikut-ikutan karena tidak
jelas apa maknanya.
Terkait hal
tersebut, dr. Suzy Yusna Dewi SpKJ(K) dari RS Jiwa Soeharto Heerdjan Grogol
berkomentar, “Jika bangga dengan predikat alay itu yang krisis identitas karena
dia tidak bisa menentukan pilihan, jadi hanya sekedar mengikuti mainstream
supaya diakui teman-temannya.” (detikHealth, Rabu, 24/10/2012).
“Memang
berlebihan untuk dikatakan sebagai gangguan jiwa, namun krisis identitas bisa
memicu kerentanan untuk mengalaminya. Terlebih, para remaja yang mengalami
krisis identitas umumnya memiliki masalah dengan latar belakang emosional,
misalnya mudah cemas dan tidak percaya diri,” imbuhnya.
Masih menurut
beliau, latar belakang dari remaja yang sering dilanda krisis identitas antara
lain karena pola asuh yang salah dari orang tua selama di rumah adalah penyebab
yang dominan. Misalnya sejak kecil dididik dengan terlalu permisif, apa-apa
diperbolehkan lalu akhirnya tidak terbentuk ketahanan terhadap berbagai
permasalahan saat bersosialisasi. Adapun ciri-ciri dari remaja krisis identitas
yakni cenderung lebih labil, mudah ikut-ikutan dan terpengaruh oleh lingkungan.
Meski tidak selalu jadi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, faktor resiko
ini bisa memicu gangguan jiwa lainnya seperti gangguan emosi maupun tingkah
laku. Tawuran adalah contoh konkritnya [AN Uyung Pramudiarja – detikHealth].
Peran Media dalam
Menghadapinya
Media, mau
tidak mau, adalah pemegang kendali utama dalam krisis identitas ini. Jika tidak
mau disalahkan, berarti filter dari dalam individu itu sendiri yang tidak kuat
dalam menyaring apa-apa yang “real me”.
Media mengumbar istilah-istilah aneh kepada masyarakat, mengumbar identitas-identitas
‘ideal’ yang justru menghilangkan kepercayadirian individu dalam mengeksplor
identitas asli mereka. Menenggelamkan identitas dengan cerminan bahwa cantik
itu idealnya seperti si A, si B, dsb. Bahwasanya imut itu seperti Omez dalam
mengatakan “ciyus miapah”, dan sebagainya. Hingga akhirnya hilang jati diri
seorang A dari desa B. A menjadi sosok artis di desanya yang belum tentu dapat
diterima dengan baik oleh masyarakat di desa tersebut. Lantas, apa yang harus
dilakukan?
Media sudah seharusnya
menyuguhkan hal-hal yang memang natural dan ‘apa seharusnya’. Memberi contoh
bagaimana seharusnya bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Bukan malah dengan
menyuguhkan hal-hal yang di luar ranah pendidikan karakter. Dalam hal ini, daya
bius media sangat besar. Jaman dahulu,
di televisi dicontohkan bagaimana cara duduk, berbicara, berjalan yang sopan
dan bagaimana orang jahat dihukum layaknya penjahat. Lirik-lirik lagu yang
diputar juga tidak sedramatis sekarang, hingga sering terjadi gap antara generasi tua dan generasi
muda.
Jadilah cerminan yang baik bagi
sejawat.
Ciyus? Miapah? Ya demi Bangsa Indonesia sendiri pastinya.

0 comments:
Post a Comment