Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Sunday, 2 March 2014

Drop Everything and be Grateful, Please!

          Mempunyai teman yang suka mengeluh itu sangat tidak mengenakkan. Jelas, tidak enak buat dilihat, didengar, bahkan dimakan. *Makan ati tau nggak. Huft.. Tiap ada tugas, mesti komentar: Aduh bro, ini susah bingits. Mau dikerjakan macam apa aja susah. Nggak bisa dikerjakan kayaknya. *itu komentar datangnya ajaib sekali. Belum juga dia buka buku, even she hasn't read the instruction of the assignment yet! Keren, kan? Itu masih tentang tugas, guys. Belum tentang hal lain-lain, misal nih: Pacar gueh itu sulit banget dikerjain, Brooo.. *Matih deh -___-"





          Sialnya, aku itu orangnya gak bisa bilang 'nggak'. Semacam hal yang amat sangat tabu buat menolak untuk membantu orang lain. Makanya, mau tidak mau aku musti menjauh dari dia. Entah duduknya yang berjauhan, entah milih beda kelompok dengan dia, de el el. Tapi, yang namanya temen sekelas itu mau tidak mau musti ketemu tiap kuliah. Cara untuk mengatasinya tinggal satu: bersabar, dan bersyukur. :-D

          1. Sabar
              Sabar itu dengan cara mengiyakan apa yang dia keluhkan, memasang muka 'seolah-olah' memperhatikan dia waktu bicara (padahal pikiran ini udah nyampe mana-mana), senyum waktu dia bilang 'aku bisa, kan?', dan selalu kututup dengan mengatakan 'Sabar ya..' :-D

          2. Syukur
              Alhamdulillahirobbil'aalamiin.. Alhamdulillah, Ya Rabb.. Setidaknya bisa dijadikan pelajaran untuk menghindari sikap, sifat yang demikian karena itu ternyata merugikan orang lain. Aku bukan seorang yang sok suci, seolah tidak pernah bersikap yang seperti itu. Tapi, minimal ini bisa dijadikan alarm kedepannya agar tidak salah jalan lagi. :) *macak bijak *tsah.. *hahahaha

Saturday, 20 July 2013

Mencukupkan: Tuhan, Keplak Ia dengan Sandal-Mu

           Possessive, maunya menang sendiri, maunya diperhatikan terus, manja, tapi sok tegar, itu semua sifat-sifat yang tidak baik. Ditambah lagi dengan sifat keras yang sudah mendarah daging.

          Akhir-akhir ini aku mulai gila, capek, dengan segala sesuatu yang berbau "Nusantara". Atau yang minimal digaungkan dengan kalimat --> Persiapan Pembangunan Nusantara. Capek, karena memang konsepan mereka tidak jelas. Arahnya kemana juga ndak jelas. Dan yang makin bikin capek itu: My partner is involved there!!
       



          Aku nggak tau musti gimana. Berkata apapun yang kutahu juga percuma. Selalu ada alasan untuknya membolak-balikkan apa yang nyata dan tampak. Sudah bisa dipastikan; ia hanya belum bisa menerima kenyataan hari ini.

          Memang seharusnya aku berhenti mencampuri urusan hidupnya. Memang seharusnya aku berhenti mengontrol apa yang ia kehendaki. Memang seharusnya aku mencukupkan. Tapi, bukankah seharusnya pula ia mencukupkan?



Tuhan, keplak ia dengan sandal-Mu. Tolong. T.T

Tuesday, 30 April 2013

Peran Bahasa dalam Berbudaya bagi Indonesia



Apa jadinya jika generasi muda Indonesia bermental ikut-ikutan; berani karena teman-temannya berani, mundur karena teman-temannya mundur? Bisa sangat disayangkan jika pemuda Indonesia yang terkenal dengan kegigihannya dalam menanggung setumpuk mata pelajaran saat SD, SMP, SMA, menjadi individu yang bahkan tidak tahu untuk apa sejatinya belajar, tanggung jawab, dan hal-hal penting lainnya. Krisis identitas sedang melanda.
Ciyus? Miapah?



Krisis Identitas dan Ciri-cirinya
            Segelintir istilah pada penutup paragraf di atas memang sekilas tampak keren, meskipun tidak diketahui secara pasti hal ihwal pembentukan kata-kata tersebut. Namun demikian, istilah asing itu cepat sekali merebak pada lingkungan sekitar. Diakui atau tidak, pemuda Indonesia sekarang dapat dikatakan sebagai generasi ikut-ikutan. Mulai dari pola bertutur dalam lingkungan masyarakat, cara berSMS, menulis singkatan, hingga meng-update status di jejaring sosial, remaja saat ini cenderung meninggalkan siapa jati diri kita sebenarnya.