Friday, 2 August 2013

Selamat Datang, A!

          A mulai belajar mencintai hidupnya. Perihal pasangannya, dia mulai mereka-reka bagaimana hidup akan berjalan, selanjutnya. Selancar eskalator yang baru dipasang di mall-mall Indonesia -- mungkin. A tak pernah tahu kemana angin dari Tuhan meniupkan nasibnya, hingga beberapa saat lampau ia pernah menabrak karang-karang di laut. Tabrakan itu membawa luka, tentunya bagi para lelaki yang mengidamkannya. Entahlah, ia terkadang merasa hidup itu tak adil.
       
          A mempunyai pasangan yang entah kenapa ia tidak suka. Akhir-akhir ini saja. Mungkin karena ia tidak pernah menyapa bagian hati terdalam partnernya itu, atau mungkin leluka bekas hembusan karang itu membuatnya takut. Ya, ia trauma.




          Lirih, ia bertanya pada sepi yang akhir-akhir ini menemaninya. Apa sebenarnya ia inginkan? Kenikmatan semata? Kenyamanan? Pernah ia membaca, "Hubungan baru itu selalu lebih menyenangkan. Itulah ketidakadilan." Sejak itu ia merasa bahwa ia sudah berbuat tidak adil. Ia sudah tidak adil pada pasangannya. Ia membohongi bagaimana kenyamanan yang diinginkannya. Ia juga secara tidak langsung sudah berlaku tidak adil pada dirinya sendiri. Ia merasa mempermainkan nafsu dan nuraninya. Ia belum menemukan apa yang dimaksud kebanyakan orang dengan 'cinta' ataupun 'sayang'. Entahlah, apapun yang terjadi kelak, memang manusiawi. Manusia terdiri dari kromosom x dan y. Kromosom autosom dan seks. Sudah manusiawi jika manusia akan bersinggungan dengan sifat dan seks manusia lainnya. Menyamaratakan perlakuan? Boleh lah.. Berarti yang akan terjadi hanya 'A akan memperlakukan pasangannya seperti manusia kebanyakan. Tidak lebih.' Bukankah yang diistimewakan hanya Tuhan?


Bisik Si A

          Aku menegakkan apa yang kusebut dengan prinsip. Aku mempunyai hak dan kewajiban, begitu pula kamu. Untuk itu, aku sangat menginginkan yang namanya privasi. Entah privasi dalam hal apapun. Aku juga berhak untuk memilih siapa saja teman yang kusuka, begitu pula teman-temanmu. Tak semuanya kusuka. Aku manusiawi, bukan? Aku bukan Tuhan.

          Aku memutuskan untuk tidak menikah. Atau mungkin tidak menikah dalam jangka waktu dekat. Mengingat tidak semua sikap dan sifatmu bisa kuterima. Aku hanya menikah pada orang yang sepaham denganku. Bukan yang -kejawen- sepertimu. Jika kehangatan keluarga tak ingin kau sesap, jangan ajak aku untuk berdingin durja. Aku tak ingin seumur hidupku berdingin-dingin dalam bungkaman kutub selatan yang bahkan belum pernah kau jelajahi.

          Selamat datang, pria lajang. Selamat datang di kehidupan seorang wanita yang sebenarnya tak ingin sendiri, namun ia enggan berbagi dengan "banyak". Selamat datang, tiga rumah dengan tuannya yang familiar. Selamat datang, Rumah kesatu! Pondok hidupku. Selamat datang, Rumah kedua! Hunian autismu.

          Selamat datang, Rumah ketiga! Tempat berteduh kita berdua, dan rahasia-rahasia kecil kita.

0 comments:

Post a Comment