Wednesday, 20 August 2014

Life is too short

          My life is normal; it is like a blanket that's too short for a bed -- sometimes it covers you just fine, and other times it leaves you cold and shaking; and worst of all. We never know which of the two it's going to be.

          Aku mengagumi cerminan diriku sendiri pada kaca rias lemari tempatku menyimpan baju-baju pestaku. Gaun-gaun ragam warna semi hingga dingin. Gaun yang bercerita musim demi musim kulalui; tanpamu. Aku tak pernah menyimpan topeng disana. Sudah kubuang semua hal yang selalu merusak nafas kamar kita. Aku selalu merias diriku dengan pink, tosca, bahkan pelangi. Dan aku selalu menikmati saat-saat kau merajuk, memanjaku dengan menyematkan jenar di gaunku. Aku cantik, katamu.

          Malam ini aku memakai gaun dengan warna tak-semua-orang-suka. Long dress kuning dengan titik-titik merah di bagian bawah. Dihias dengan rerenda putih pula. Tentunya kakiku makin tampak jenjang, dan anggun. Kupakai sabuk hitam manis pemberianmu di pinggangku. Kamu sangat suka bagian pinggulku tampak seksi. Ya, sepertiku malam ini. Menawan. Aku mengagumi diriku sendiri.

          Baru kusadar jika warna kuning ini tak baik untuk kesehatanku. Aku sakit. Aku tidak percaya diri. Aku depresi. Ada apa ini. Padahal harusnya aku ini model profesional yang selalu tampak menawan di tiap langkahnya. Ah, aku harus pulang. Aku rindu pelukmu. Aku rindu kritik pedasmu tentang bagaimana seharusnya aku. Aku rindu anak-anak kita, A. Aku rindu kamu. Aku pulang, ya.

          Sesampai di rumah, sambut aku dengan gaun tercantik untukku ya. Dengan senyummu yang khas. Dengan ciummu yang kirindu. Dengan pandang matamu mengagumiku selalu. Aku pulang, A-ku.



Friday, 15 August 2014

Mengurai Langkah dan Bayangan


          Teruntuk kegagapanku, aku berterimakasih. Tanpa memahami diriku sendiri, tak mungkin aku bisa memahami orang lain. Walau aku masih terlalu sering memasang ego saat hendak kecelakaan. Aku menyelamatkan diriku sendiri. Defensive. Mungkin itu definisi malam pada jarak yang menyamarkan rembulan. Aku kini semakin sayang pada diriku sendiri. Ini fase 'satu'.

          Melangkahlah aku pada fase 'dua'. Dimana A bukan lagi sekedar A. A kini adalah A yang... Ah, asli, jernih, genuine, makna sebenarnya. A adalah bilangan yang kukenalkan pada anak-anak manusia sebagai pasanganku, yang juga A. Hihihi.. Unik memang. Kami bagai cermin. Aku melihat diriku pada dirinya. Sehingga saat marah, kangen, sedih, tertawa, kami tak pernah mendusta. Dia pun selalu mengikuti upacara hari-hari yang kami tentukan sendiri untuk diperingati, sebagai kepala suku tentunya. Dan aku selalu bangga bisa menjadi bagian dari kepala suku. Aku tak pernah diposisikan sebagai wakil. Itu yang membuatku sangat menghargai dan menghormatinya. Aku yang 'terlalu mandiri', dilatih untuk kemudian menjadi pribadi yang menghargai pasangan itu ada sebagai 'pasangan'. Bukan untuk bongkar pasang, dibongkar ketika tidak butuh, dipasangan ketika butuh. Aku sangat bahagia mendampingi A yang tidak pernah menganggap hubungan ini main-main. Atau menganggap aku mainan. Rerata lelaki seperti itu. Padaku. Hukum ini tidak berlaku untuk wanita lain. Jadi, jangan tersinggung jika aku terlalu memuji A-ku and bring myself into the sky. Ulaalaaa~

          Fase 'tiga'. Ini tidak berat. Ini pun tak mudah. Berkali yang kami ingat adalah istilah "ojo nggege mongso". Bahkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Maka, kami terus memperbaiki diri dan bayangan. Agar kiranya jika waktu terindah kami tiba, tak ada yang terganggu dengan bayang-bayang kami. Agar pun jika waktu terpanas kami tiba, bebayang kami pun hanya memberatkan diri kami, tak membebani B, C, D, ...., Z. Apalagi ketika malam kami beradu, tak ada berisik hingga tetangga terdekat tau. Ah, kau imamku, sayang. Aku cinta.

          'Empat', bilangan yang tak pernah kami duga. Pelangi muncul setelah hujan di waktu terik. Sangat melegakan. Sangat indah. Sakinah, mawaddah, warrohmah itu bukan sekadar istilah. Itu ada. Kami membuktikan itu.Adapun sabar selalu berbuah manis. Adapun kedewasaan selalu berawal dari belajar. Tak perlu kami menyebut bibit apa saja yang kami usahakan. Toh nanti juga akan berbuah, dan semoga buah itu manis, karena benihnya dari pohon yang manis-manis. Ah, bittersweet. Itu pewarna. Yang pasti kami belajar banyak untuk meracik, memasak, agar nantinya ceria anak cucu kami yang meneruskan pada dunia, bagaimana kami saling mencinta. A-mu dan A-ku. Sayang, ayo lari lagi. Orang tua tak selamanya berusia 50. Dan malam tak pernah benar-benar mengirimkan surat terbuka akan kedatangannya. Mari genggam bersama senyum dan harap orang-orang tercinta. Eling, nak. Kowe wes gedhe lho. Ah, ibuk, bapak, papa, mama. Peluk hangat kami untuk kalian. Semoga cinta kalian bisa kami teruskan pada anak cucu nanti. Semoga semakin hangat, semakin dalam, semakin merasuk bermanfaat bagi semesta.

          Bilangan 'lima'. A-ku dan A-mu sedang melangkahkan kaki. Bismillah..