Friday, 15 August 2014

Mengurai Langkah dan Bayangan


          Teruntuk kegagapanku, aku berterimakasih. Tanpa memahami diriku sendiri, tak mungkin aku bisa memahami orang lain. Walau aku masih terlalu sering memasang ego saat hendak kecelakaan. Aku menyelamatkan diriku sendiri. Defensive. Mungkin itu definisi malam pada jarak yang menyamarkan rembulan. Aku kini semakin sayang pada diriku sendiri. Ini fase 'satu'.

          Melangkahlah aku pada fase 'dua'. Dimana A bukan lagi sekedar A. A kini adalah A yang... Ah, asli, jernih, genuine, makna sebenarnya. A adalah bilangan yang kukenalkan pada anak-anak manusia sebagai pasanganku, yang juga A. Hihihi.. Unik memang. Kami bagai cermin. Aku melihat diriku pada dirinya. Sehingga saat marah, kangen, sedih, tertawa, kami tak pernah mendusta. Dia pun selalu mengikuti upacara hari-hari yang kami tentukan sendiri untuk diperingati, sebagai kepala suku tentunya. Dan aku selalu bangga bisa menjadi bagian dari kepala suku. Aku tak pernah diposisikan sebagai wakil. Itu yang membuatku sangat menghargai dan menghormatinya. Aku yang 'terlalu mandiri', dilatih untuk kemudian menjadi pribadi yang menghargai pasangan itu ada sebagai 'pasangan'. Bukan untuk bongkar pasang, dibongkar ketika tidak butuh, dipasangan ketika butuh. Aku sangat bahagia mendampingi A yang tidak pernah menganggap hubungan ini main-main. Atau menganggap aku mainan. Rerata lelaki seperti itu. Padaku. Hukum ini tidak berlaku untuk wanita lain. Jadi, jangan tersinggung jika aku terlalu memuji A-ku and bring myself into the sky. Ulaalaaa~

          Fase 'tiga'. Ini tidak berat. Ini pun tak mudah. Berkali yang kami ingat adalah istilah "ojo nggege mongso". Bahkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Maka, kami terus memperbaiki diri dan bayangan. Agar kiranya jika waktu terindah kami tiba, tak ada yang terganggu dengan bayang-bayang kami. Agar pun jika waktu terpanas kami tiba, bebayang kami pun hanya memberatkan diri kami, tak membebani B, C, D, ...., Z. Apalagi ketika malam kami beradu, tak ada berisik hingga tetangga terdekat tau. Ah, kau imamku, sayang. Aku cinta.

          'Empat', bilangan yang tak pernah kami duga. Pelangi muncul setelah hujan di waktu terik. Sangat melegakan. Sangat indah. Sakinah, mawaddah, warrohmah itu bukan sekadar istilah. Itu ada. Kami membuktikan itu.Adapun sabar selalu berbuah manis. Adapun kedewasaan selalu berawal dari belajar. Tak perlu kami menyebut bibit apa saja yang kami usahakan. Toh nanti juga akan berbuah, dan semoga buah itu manis, karena benihnya dari pohon yang manis-manis. Ah, bittersweet. Itu pewarna. Yang pasti kami belajar banyak untuk meracik, memasak, agar nantinya ceria anak cucu kami yang meneruskan pada dunia, bagaimana kami saling mencinta. A-mu dan A-ku. Sayang, ayo lari lagi. Orang tua tak selamanya berusia 50. Dan malam tak pernah benar-benar mengirimkan surat terbuka akan kedatangannya. Mari genggam bersama senyum dan harap orang-orang tercinta. Eling, nak. Kowe wes gedhe lho. Ah, ibuk, bapak, papa, mama. Peluk hangat kami untuk kalian. Semoga cinta kalian bisa kami teruskan pada anak cucu nanti. Semoga semakin hangat, semakin dalam, semakin merasuk bermanfaat bagi semesta.

          Bilangan 'lima'. A-ku dan A-mu sedang melangkahkan kaki. Bismillah..


0 comments:

Post a Comment