Mempunyai teman yang suka mengeluh itu sangat tidak mengenakkan. Jelas, tidak enak buat dilihat, didengar, bahkan dimakan. *Makan ati tau nggak. Huft.. Tiap ada tugas, mesti komentar: Aduh bro, ini susah bingits. Mau dikerjakan macam apa aja susah. Nggak bisa dikerjakan kayaknya. *itu komentar datangnya ajaib sekali. Belum juga dia buka buku, even she hasn't read the instruction of the assignment yet! Keren, kan? Itu masih tentang tugas, guys. Belum tentang hal lain-lain, misal nih: Pacar gueh itu sulit banget dikerjain, Brooo.. *Matih deh -___-"
Sialnya, aku itu orangnya gak bisa bilang 'nggak'. Semacam hal yang amat sangat tabu buat menolak untuk membantu orang lain. Makanya, mau tidak mau aku musti menjauh dari dia. Entah duduknya yang berjauhan, entah milih beda kelompok dengan dia, de el el. Tapi, yang namanya temen sekelas itu mau tidak mau musti ketemu tiap kuliah. Cara untuk mengatasinya tinggal satu: bersabar, dan bersyukur. :-D
1. Sabar
Sabar itu dengan cara mengiyakan apa yang dia keluhkan, memasang muka 'seolah-olah' memperhatikan dia waktu bicara (padahal pikiran ini udah nyampe mana-mana), senyum waktu dia bilang 'aku bisa, kan?', dan selalu kututup dengan mengatakan 'Sabar ya..' :-D
2. Syukur
Alhamdulillahirobbil'aalamiin.. Alhamdulillah, Ya Rabb.. Setidaknya bisa dijadikan pelajaran untuk menghindari sikap, sifat yang demikian karena itu ternyata merugikan orang lain. Aku bukan seorang yang sok suci, seolah tidak pernah bersikap yang seperti itu. Tapi, minimal ini bisa dijadikan alarm kedepannya agar tidak salah jalan lagi. :) *macak bijak *tsah.. *hahahaha
Ternyata guys, menghadapi seseorang dengan sifat seperti itu tidak cuma diatasi dengan sabar dan syukur. Seandainya kamu seorang pendidik, apa yang akan kamu lakukan?
A. dibiarkan saja B. difasilitasi C. dikasih tau jawabannya D. dibuang aja ke laut
Tet tooottt.. Yak, jawaban yang benar adalah 'D', dibuang ke laut. Hahahaha... Just kidding ^_^v
Mungkin karena aku mempunyai tanggung jawab sebagai pendidik, maka karakter yang kuambil adalah cenderung ke B, difasilitasi. Maka, aku pun memberikan beberapa link atau referensi 'gratis' buat dia. Kalian tahu kan apa fungsinya? Ya buat dibaca, sebelum akhirnya dia sampai pada kesimpulan harus diapakan itu semua untuk menjawab tugas-tugas yang diberikan. Simple, kan?
Ternyata aku salah. Aku terlalu percaya dia bakal membaca, kemudian mempelajari semuanya dari awal - kalau dia tak punya cukup background knowledge. Tapi masak sih udah menginjak S2 masih belum cukup background knowledge-nya. Kalah sama anak S1 di kampusku. Sampai-sampai aku mengumpat dalam hati: Kamu ini lulusan mana sih, kok masalah sepele gini aja gak paham. T_T
Sudah bisa dibayangkan kan, serangan selanjutnya dari dia apa? ----> Aku gak paham, Mbak. Nyontek ya.
Ya Allah.. Aku adalah seseorang yang sangat menghargai hak intelektualitas seseorang, hak kreatifitas seseorang. Masak iya aku rela 'membodohi' dia yang 'calon pendidik' dengan cara sekeji itu? Tentu saja tidak. Akhirnya aku meninggalkan dia. Tidak menjawab apa saja yang ditanyakan. Sampai pada saat dimana dia tanya: Mbak, gimana caranya ngerjakan?
Itu baru kuindahkan, karena dia tanya bagaimana caranya. Jawabannya amat sangat simple: BACALAH.
Hiks.. Aku memang sosok yang gampang banget nge-judge generasi-generasi di bawahku itu sebagai generasi kurang membaca. Minim literasi. Alasannya? Aku ngajar mereka, dan aku tau tingkat literasi mereka. Tapi aku bangga, karena banyak dari mereka akhirnya sadar akan pentingnya membaca dan membudayakannya. Aku masih bisa menghirup nafas lega ketika tau bahwa mereka yang kurang membaca. Nafas legaku itu berubah jadi shock yang teramat sangat pada saat aku tau, temanku sendiri -calon guru- malah yang kurang bisa membudayakan membaca. Ya Rabb.., jangan pernah salahkan murid.
Iqro', Iqro', Iqro'. Negara yang mengklaim mayoritas penduduknya muslim ini ternyata malah jauh dari membaca. Miris, Saudara-saudara. Siapa yang disalahkan? Untuk generasi muda, mungkin bisa menyalahkan perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca, adanya UAN hingga patokan membaca adalah untuk lulus UAN, dan lingkungannya. Kalau orang tua tidak bisa membiasakan anak untuk membaca, maka seharunya guru ambil alih. Bukan malah cuma ngasih tugas terus ditinggal mesra-mesraan sama pacar.
Untuk generasiku ke atas, siapa yang disalahkan? Ah.., terlalu kompleks. Sudah terancam kena generasi instan. Maunya semua serba tersedia tanpa kerja keras. Mau dibawa kemana masa depan kita nantinya?
Please, everyone. Drop everything and READ.
Please, drop everything and be Grateful. We live once. Appreciate your time, your chance.
Sunday, 2 March 2014
Posted by INKHitam on 3/02/2014 04:44:00 pm with No comments
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment