Monday, 12 May 2014

Lari, Terengah-engah, dan Pulang

          Hidup, mempunyai definisi sendiri-sendiri, bergantung pada apa yang kita yakini. Seorang sutradara memaknai hidup selaksa panggung sandiwara: komedi-tragis. Seorang pelari mengatakan hidup adalah tempat untuk berlari. Maka berlarilah, selagi kamu mampu. Garis finish menurut pelari juga berbeda-beda. Ada yang mengatakan, aku sudah tak sanggup bernafas, maka aku sudah sampai pada finish-ku. Ada pula yang bilang, tiga perempat rute ini kulalui, setelah itu aku pulang. Ada yang teguh berkeyakinan bahwa garis finish adalah tujuan akhir seorang pelari yang disebut sebagai pemenang.
         
          Bagi beberapa orang, lari merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bagi kebanyakan orang, lari itu kegiatan yang hanya bikin tubuh lelah. Lari. Ah.. Aku suka dengan kalimat temanku: Aku, separuh pelari, separuh pejalan kaki. Iya, kadang kita lari hingga terengah-engah, lupa akan jalan kaki. Jalan kaki saja lupa, apa lagi untuk pulang. Hehehe..

          Jika ada yang memaknai hidup seperti pelari, maka peganglah dengan erat apa yang kau yakini. Karena pada dasarnya tak ada lari yang berakhir pada ketiadaan. Semua berbalas.




          Legowo, kataku. Ada banyak definisi juga tentang itu. :-D
          Tetapi, apa selalu harus dipendam? Apa semuanya memang harus dimengerti? Kondisi seperti apa yang sesungguhnya menuntut kita untuk pulang dan merajuk pada tenangnya pangkuan ibu di rumah?
          Aku di rumah, sekarang. Pulang. Aku ingin bersimpuh, tapi menurut mereka, aku sudah terlalu dewasa untuk itu. Ibu, selamat hari ibu. Aku rindu. Hari ini aku jatuh, bu. Untungnya aku punya ibu hebat sepertimu. Terima kasih, bu. Aku tidak akansekuat ini jika engkau tidak ada. Legowo itu, engkau yang mengajarkan. Bahwa takdir itu sudah digariskan. Tapi tetap kita harus berusaha keras untuk menjadi yang terbaik versi diri kita sendiri.
          Ibu, anakmu ini sebenarnya tidak sedang berlari. Berlari, sih. Tapi sambil menikmati pemandangan. Tersandung beberapa kali. Dan kini sedang terengah-engah oleh apa yang aku sendiri belum ketahui. Yang jelas: restumu, ibu. Anakmu ini sedang berjalan menuju pelaminan. Tapi jalannya sungguh berliku. Hehehe..

2 comments: