Wednesday, 3 September 2014

Anak Cucu dan Kemacetan

          Apa yang terbersit dalam pikiran kalian saat disodori pertanyaan: "Apa dampak paling menakutkan dari beranak pinaknya kendaraan bermotor?"
          Tiap individu pasti memiliki ketakutan yang berbeda. Variasi jawabannya bisa mewakili kepentingan pribadi, hingga negara. Keluhan pribadi bisa jadi semakin parah penyakit yang menyerang paru-paru sehingga memerlukan biaya berobat yang tidak sedikit, hingga risih, macet, pusing, yang masih bersifat individual. Dan hal ini dengan mudahnya ditangkas oleh para pengemudi kendaraan bermotor bahwa asap kendaraan tak semenakutkan asap rokok, macet itu dinikmati saja. Pusing? Itu urusanmu sendiri. Gue mah ogah ngurusin orang.

Parkiran motor di kampus-kampus di Indonesia



          Sebenarnya dalam masalah macet, Indonesia sebagai negara konsumen kendaraan bermotor akan terus mengalami penambahan jumlah kendaraan bermotor. Tentunya 'kebutuhan' untuk mobilitas menjadi alasan utama. Disusul dengan meningkatnya standar 'primer' yang sering kali disebut dengan: udah gak jaman gak punya motor/mobil sendiri, yang baru dan keren. Ah, sebenarnya kita mencari apa dalam hidup ini. Gengsi dipasang dengan harga tinggi, sampai-sampai pejalan kaki atau pengguna angkutan umum dicibir.

          Bagiku, ketakutan akan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor ini lebih pada imbas sosial. Satu orang mengendarai satu motor. Bahkan tak jarang ditemui satu mobil hanya dikemudikan untuk satu orang saja. Kontras sekali dengan keadaan di lapangan, bahwa masih banyak orang yang berjuang mencari lapangan pekerjaan, ataupun berjalan dengan kaki telanjang mencari sesuap nasi. Sepertinya memang ada kesalahan disini. Ada yang tahu dimana letak kesalahannya?

           Climate changes, obesitas, kolesterol, dan lain-lain itu masih terlalu global. Bagaimana dengan kenyataan: sudah tidak ada lahan lagi untuk parkir, atau sekedar jalan lengang menuju tempat kerja? Bahkan idealnya sebuah toko itu harus memiliki tempat parkir yang memadai. Sebegitunya kah? Kenapa tidak ada yang berpikir untuk mengoptimalkan fungsi kendaraan umum untuk menuju tempat kerja? Atau membonceng teman-teman yang satu tujuan? Apa sudah mulai individualis negara ini? Padahal secara teori, Indonesia adalah negara yang kolektivis. Mungkin negara ini sudah beranjak menjadi negara maju. :-D

          Padatnya kendaraan bermotor secara signifikan sudah kurasakan sekarang. Mau nyebrang jalan susah, mau pulang dari kampus saja butuh waktu 30 menit, padahal biasanya 5 menit sampai, atau 20 menit jalan kaki. Anak-anak manusia makin bertambah, tentunya para orang tua tak akan sampai hati melepas anak-anaknya untuk jalan kaki saja menuju tempat kerja, pun untuk kuliah atau les, atau sekedar beli es kelapa muda di depan kos. Menurut mereka: Sudahlah nak, bapak ibuk gak pengen kamu ngerasa susah kayak bapak ibuk dulu. Kalian butuhnya cuma belajar dan makan. Kerja sambilanpun jangan sampe susah, ini sudah ada kendaraan untuk kemana-mana. Begitu.

          Namun memang patut dipahami pemikiran orang tua seperti itu, selama angkutan umum belum menaikkan fasilitas dan pelayanan dalam organ mereka. Alasan takut telat, lama ngetem, sopir ugal-ugalan, layak membuat para orang tua khawatir. Semoga negara dan masyarakat bisa bijak menyikapi persoalan ini.

Cibogo 1, 2014


Yang menakutkan dari membludaknya kendaraan bermotor adalah tidak adanya lagi lahan untuk parkir. Tempat parkir saja sudah melebihi kebutuhan akan membangun papan yang layak.

0 comments:

Post a Comment