Wednesday, 3 September 2014

Kepada Mas Martabak Manis

          Ketahuilah bahwa manisnya hidup itu tak bisa ditakar; meski dengan timbangan besi abu-abu, di balai desa tempat para gadis membersihkan sisa gabah. Pun dengan terigu --yang menurut para pemasak-- cukup satu kilo saja untuk membuatmu utuh. Membuatmu cukup untuk menampung gula-gula dalam badanmu. Tetap kau menagih takaran. Kau butuh bilangan yang menjanjikan. Tolak ukur. Iya, aku tahu.




          Menurut kamus dunia martabak manis, kamu itu tidak memiliki kompetitor. Dalam hal apapun. Bahkan para pria martabak asin tak pernah iri akan keberadaanmu di loyang. Mereka asyik bercengkrama dengan daun-daun bawang; dalam jantung hati mereka. Martabak manis, kamu adalah sosok yang penuh syukur. Iya, aku yakin.

          Pernah suatu ketika, di kotak pos depan gerobak tempatmu tinggal, pak pos mengantar kertas-kertas bergambar dirimu. Banyak sekali. Kertas-kertas itu berwarna-warni. Kamu mengagumi kertas beraneka warna itu. Berbahagialah, Mas Martabak Manis. Itu kado. Bergembiralah! Dari siapa? Entahlah. Yang pasti, sosok itu ingin mengajakmu tertawa bahagia hingga wajah langit berubah malu kemerahan. Sosok itu ingin menemanimu melewati malam-malam dimana kau harus memeras keringat; lelah. Kau sangat bahagia saat itu.

          Kau menikmati kebersamaan dengan kertas warna-warni, hingga kabar bahwa dirimu menjadi martabak yang termanis diiyakan oleh Sang Pencipta Warna. Kau pun masih berupa sosok penuh syukur. Hingga tiba suatu pagi, kertas bergambar dirimu itu berubah menjadi buram. Kamu bingung. Sampai-sampai gula-gula dalam dirimu kau hantamkan pada bidang atas kertas itu agar ia kembali bahagia. Namun sebagian darimu terasa sakit. Kau tak mungkin menyakiti banyak, atau bahkan meninggalkan rumah. Apapun itu, yang kutahu: Kau rindu pada kertas warna-warni.

          Kukenal engkau adalah sosok yang pandai bersyukur. Tak mungkin kamu mundur saat segala sesuatu belum terjawab.

          Maka kau layangkan secarik hujan; kau tenangkan hantaman ombak pada karang. Kau biarkan waktu bicara.


Malang, September 2014

1 comment: