Friday, 8 November 2013

Disini, Masih Pagi dan Embun Masih Serupa

          Selamat pagi, mimpi-mimpi. Aku selalu berusaha menyemangati diri untuk bangun, padahal serial mimpi dalam malam tidurku sangat indah. Kata orang, kecewa pagi hari itu tidak baik; menyebabkan kerapuhan otak dan pola pikir. Iya juga sih, merebaknya masalah itu juga akhirnya ke stabilisasi ekonomi dan standarisasi diri. #tsaah #ngomong apa sih. -,-"

          Langsung aja to the point:

          Disini, pagi dan embun masih serupa
          Rupa-rupanya dingin enggan beranjak dan membelikanku eskrim
          Padahal dalam dingin mimpiku, eskrim merupa selimut

         Embun, datang di pucuk daun yang sama
         Bertemu di pagi yang sayupsayup
         Kemudian menghilang, bersama dengan beranjaknya mimpi
         Mungkin juga beriringan dengan lumeran eskrim siang tadi.
        

Saturday, 17 August 2013

Hening, dan A Belajar

          Bersamamu mungkin masih sewarsa, namun banyak hal yang bisa dipelajari. Mulai dari bagaimana caraku harus menatapmu, berbicara, tersenyum yang kau suka, menyampaikan pendapatmu dengan suaraku, hingga akhirnya semua yang sebenar-benarnya tentangku sudah berubah menjadi 'aku yang kamu'. Kamu yang manja, yang tegas, yang bijaksana, yang gemar menawarkan canda di awal, ternyata sebenar-benarnya bukan begitu. Kamu ternyata, ah kamu.

          Sangat mengejutkan ketika dirimu yang sebenarnya datang, dan menyapa pagiku yang sudah kulukis dengan awan putih-putih dalam bentuk senyum. Senyum yang kau suka. Tiba-tiba aku sudah tidak mengenali dirimu lagi. Entah kau kemanakan jaket yang biasa kau pakai, tas yang biasa kau tenteng, dan matahari yang biasa menyelimuti kulitmu?

          Ah, aku belajar mengenai komitmen. Aku belajar mengenai tanggung jawab. Aku belajar tentang bagaimana harus hidup dan bersikap. Semoga kau juga.

          Aku suka kamu yang dulu. A.

Friday, 2 August 2013

Selamat Datang, A!

          A mulai belajar mencintai hidupnya. Perihal pasangannya, dia mulai mereka-reka bagaimana hidup akan berjalan, selanjutnya. Selancar eskalator yang baru dipasang di mall-mall Indonesia -- mungkin. A tak pernah tahu kemana angin dari Tuhan meniupkan nasibnya, hingga beberapa saat lampau ia pernah menabrak karang-karang di laut. Tabrakan itu membawa luka, tentunya bagi para lelaki yang mengidamkannya. Entahlah, ia terkadang merasa hidup itu tak adil.
       
          A mempunyai pasangan yang entah kenapa ia tidak suka. Akhir-akhir ini saja. Mungkin karena ia tidak pernah menyapa bagian hati terdalam partnernya itu, atau mungkin leluka bekas hembusan karang itu membuatnya takut. Ya, ia trauma.




          Lirih, ia bertanya pada sepi yang akhir-akhir ini menemaninya. Apa sebenarnya ia inginkan? Kenikmatan semata? Kenyamanan? Pernah ia membaca, "Hubungan baru itu selalu lebih menyenangkan. Itulah ketidakadilan." Sejak itu ia merasa bahwa ia sudah berbuat tidak adil. Ia sudah tidak adil pada pasangannya. Ia membohongi bagaimana kenyamanan yang diinginkannya. Ia juga secara tidak langsung sudah berlaku tidak adil pada dirinya sendiri. Ia merasa mempermainkan nafsu dan nuraninya. Ia belum menemukan apa yang dimaksud kebanyakan orang dengan 'cinta' ataupun 'sayang'. Entahlah, apapun yang terjadi kelak, memang manusiawi. Manusia terdiri dari kromosom x dan y. Kromosom autosom dan seks. Sudah manusiawi jika manusia akan bersinggungan dengan sifat dan seks manusia lainnya. Menyamaratakan perlakuan? Boleh lah.. Berarti yang akan terjadi hanya 'A akan memperlakukan pasangannya seperti manusia kebanyakan. Tidak lebih.' Bukankah yang diistimewakan hanya Tuhan?


Bisik Si A

          Aku menegakkan apa yang kusebut dengan prinsip. Aku mempunyai hak dan kewajiban, begitu pula kamu. Untuk itu, aku sangat menginginkan yang namanya privasi. Entah privasi dalam hal apapun. Aku juga berhak untuk memilih siapa saja teman yang kusuka, begitu pula teman-temanmu. Tak semuanya kusuka. Aku manusiawi, bukan? Aku bukan Tuhan.

          Aku memutuskan untuk tidak menikah. Atau mungkin tidak menikah dalam jangka waktu dekat. Mengingat tidak semua sikap dan sifatmu bisa kuterima. Aku hanya menikah pada orang yang sepaham denganku. Bukan yang -kejawen- sepertimu. Jika kehangatan keluarga tak ingin kau sesap, jangan ajak aku untuk berdingin durja. Aku tak ingin seumur hidupku berdingin-dingin dalam bungkaman kutub selatan yang bahkan belum pernah kau jelajahi.

          Selamat datang, pria lajang. Selamat datang di kehidupan seorang wanita yang sebenarnya tak ingin sendiri, namun ia enggan berbagi dengan "banyak". Selamat datang, tiga rumah dengan tuannya yang familiar. Selamat datang, Rumah kesatu! Pondok hidupku. Selamat datang, Rumah kedua! Hunian autismu.

          Selamat datang, Rumah ketiga! Tempat berteduh kita berdua, dan rahasia-rahasia kecil kita.

Sunday, 21 July 2013

Hey, You!!

          Hey, you!! Yes, you. Hahaha.. I remember the last time I left you. Just let you go without any words. And you came just a moment right after I got my new partner in life. Yeah, just now. Well, hey.. Why you just come such a way? You are reaaallyy clooossee to my -now- partner!! HELL!! :-D






           I never thought you would come after such a loooong time I just threw you away. And you feel soo disappointed by me, right? Of course, you have waited for times. :-)

          Now you have found your new 'life'. I don't know how lovely 'words' for you. But "Dahlia" after "Intan" is sooo sweet. Hehehe.. Your style just like my 'life' now. I don't want getting back to you, just wanna say: Congratulations, my dear hero. Start your new life yaa.. ^_^

Saturday, 20 July 2013

Me + God = Enough

Unless you want more than what you acquire, more than what you have, more than what you obsess.



If you need more, just call: MIRACLE.
It's upon God, right? ;-)



That's All We No Look at

See picture below:
Do you think it's all the girls want?

NO!!


          Life is not only fucked up with those glamour things and what so called as "position". Once you want the glory on your hand, forever it won't. Because life is IN your own hand. Just how you could realize it without breaking your own hand.

          I do want to be a princess of my own life. I do want to be a duchess of my own pretty small clean and warm house. I do want to be good lady to my great great grandchildren -later-. But, I do also want to have a man who has a high responsibility of his own. Knowing what is right for him, and furthermore for his family - as well as the society -.

         I do not live in a kingdom time. I do not want to jump on those decades where the wars existed everywhere, in which people look for POSITION. I just want to live happily. I just want to give birth and raise my children in a peaceful night or in a warm afternoon. I just want to live happily, with you -my dear partner whom I hardly find his soul these days.

          It's pretty simple. Don't take those people's saying you don't have a dam to pursue your dreams. Don't ever let those people stop you playing with your way out. Just find your own egress.




Dear, my lovely partner.., please do recognize: you are more than what you do these days.

Mencukupkan: Tuhan, Keplak Ia dengan Sandal-Mu

           Possessive, maunya menang sendiri, maunya diperhatikan terus, manja, tapi sok tegar, itu semua sifat-sifat yang tidak baik. Ditambah lagi dengan sifat keras yang sudah mendarah daging.

          Akhir-akhir ini aku mulai gila, capek, dengan segala sesuatu yang berbau "Nusantara". Atau yang minimal digaungkan dengan kalimat --> Persiapan Pembangunan Nusantara. Capek, karena memang konsepan mereka tidak jelas. Arahnya kemana juga ndak jelas. Dan yang makin bikin capek itu: My partner is involved there!!
       



          Aku nggak tau musti gimana. Berkata apapun yang kutahu juga percuma. Selalu ada alasan untuknya membolak-balikkan apa yang nyata dan tampak. Sudah bisa dipastikan; ia hanya belum bisa menerima kenyataan hari ini.

          Memang seharusnya aku berhenti mencampuri urusan hidupnya. Memang seharusnya aku berhenti mengontrol apa yang ia kehendaki. Memang seharusnya aku mencukupkan. Tapi, bukankah seharusnya pula ia mencukupkan?



Tuhan, keplak ia dengan sandal-Mu. Tolong. T.T

Wednesday, 1 May 2013

Selalu Ada Tempat untukmu Pulang

           Perempuan itu makhluk yang sungguh lucu. Tak mau disakiti, tapi memilih untuk diam saat sakit. Terus, yang laki-laki bisa bantu apa? :-D

Dududuh, gak kebayang. Ngurus rumah, ketambahan kerja, ditinggal kerja, nyoba ngerawat tubuh dan penampilan, belum sakit pre-mens tiap bulan, belum pas hamil, belum pas melahirkan.., and finally, ditinggal selingkuh.

Well, life is simply like this. Tersenyumlah.. Tersenyumlah. Perempuan ini selalu memberimu tempat untuk berpulang, wahai lelakiku.


Selalu ada maaf, untukmu.

Tuesday, 30 April 2013

Sebait Syair dari UJE Kepada Sang Bidadarinya

Isteriku.
Aku ingin tenang.

Biarkan aku tenang menghadap Khalik-ku,
Sudahi isakmu isteriku,
Aku tidaklah semu isteriku,
Bukankah berulangkali dulu kita membaca Hadist Rasulullah Shalallohu 'Alayhi Wasallam bahwa yang dinamai sabar itu adalah saat pertama kamu diberi ALLAH ujian?

Maka berhentilah menangis,
Suruhlah orang-orang itu untuk berhenti menanyakan kamu perihal suamimu,
Himbaulah mereka yang tidak mengerti itu untuk menjauhkan kamera dari wajahmu.
Itu membuat kamu dan membuat aku tidak tenang istriku.

Sampaikan terimakasih suamimu kepada mereka semua,
Siapa saja yang ikhlas berdoa untuk kebaikan aku disetiap waktu,
Cukuplah itu buatku.

Ketika kamu rindu,
Lihatlah anak-anakku,
Ketika kamu ingin kelak bertemu denganku,
Rawatlah dan didiklah anakku,
Berikan mereka tali buhul ALLAH,
Ikatkan mereka dengan itu,
Tuntunlah agama anak-anakku,
Seperti apa kehendak aku dahulu.

Isteriku..
Maafkan aku,
Maafkan telah meninggalkan beban dan amanah yang sangat berat disisimu.
Tidaklah ALLAH menimpakan sesuatu diluar batas kesanggupanmu.

ALLAH Maha Mengetahui.

Kamu itu mampu..

Ku nanti kamu dan anak-anakku dipintu syurga.


Aamiin.

Peran Bahasa dalam Berbudaya bagi Indonesia



Apa jadinya jika generasi muda Indonesia bermental ikut-ikutan; berani karena teman-temannya berani, mundur karena teman-temannya mundur? Bisa sangat disayangkan jika pemuda Indonesia yang terkenal dengan kegigihannya dalam menanggung setumpuk mata pelajaran saat SD, SMP, SMA, menjadi individu yang bahkan tidak tahu untuk apa sejatinya belajar, tanggung jawab, dan hal-hal penting lainnya. Krisis identitas sedang melanda.
Ciyus? Miapah?



Krisis Identitas dan Ciri-cirinya
            Segelintir istilah pada penutup paragraf di atas memang sekilas tampak keren, meskipun tidak diketahui secara pasti hal ihwal pembentukan kata-kata tersebut. Namun demikian, istilah asing itu cepat sekali merebak pada lingkungan sekitar. Diakui atau tidak, pemuda Indonesia sekarang dapat dikatakan sebagai generasi ikut-ikutan. Mulai dari pola bertutur dalam lingkungan masyarakat, cara berSMS, menulis singkatan, hingga meng-update status di jejaring sosial, remaja saat ini cenderung meninggalkan siapa jati diri kita sebenarnya.