Ketahuilah bahwa manisnya hidup itu tak bisa ditakar; meski dengan timbangan besi abu-abu, di balai desa tempat para gadis membersihkan sisa gabah. Pun dengan terigu --yang menurut para pemasak-- cukup satu kilo saja untuk membuatmu utuh. Membuatmu cukup untuk menampung gula-gula dalam badanmu. Tetap kau menagih takaran. Kau butuh bilangan yang menjanjikan. Tolak ukur. Iya, aku tahu.
Wednesday, 3 September 2014
Posted by INKHitam on 9/03/2014 03:32:00 pm with No comments
Apa yang terbersit dalam pikiran kalian saat disodori pertanyaan: "Apa dampak paling menakutkan dari beranak pinaknya kendaraan bermotor?"Tiap individu pasti memiliki ketakutan yang berbeda. Variasi jawabannya bisa mewakili kepentingan pribadi, hingga negara. Keluhan pribadi bisa jadi semakin parah penyakit yang menyerang paru-paru sehingga memerlukan biaya berobat yang tidak sedikit, hingga risih, macet, pusing, yang masih bersifat individual. Dan hal ini dengan mudahnya ditangkas oleh para pengemudi kendaraan bermotor bahwa asap kendaraan tak semenakutkan asap rokok, macet itu dinikmati saja. Pusing? Itu urusanmu sendiri. Gue mah ogah ngurusin orang.
| Parkiran motor di kampus-kampus di Indonesia |
Wednesday, 20 August 2014
Posted by INKHitam on 8/20/2014 11:31:00 pm with No comments
My life is normal; it is like a blanket that's too short for a bed -- sometimes it covers you just fine, and other times it leaves you cold and shaking; and worst of all. We never know which of the two it's going to be.
Aku mengagumi cerminan diriku sendiri pada kaca rias lemari tempatku menyimpan baju-baju pestaku. Gaun-gaun ragam warna semi hingga dingin. Gaun yang bercerita musim demi musim kulalui; tanpamu. Aku tak pernah menyimpan topeng disana. Sudah kubuang semua hal yang selalu merusak nafas kamar kita. Aku selalu merias diriku dengan pink, tosca, bahkan pelangi. Dan aku selalu menikmati saat-saat kau merajuk, memanjaku dengan menyematkan jenar di gaunku. Aku cantik, katamu.
Malam ini aku memakai gaun dengan warna tak-semua-orang-suka. Long dress kuning dengan titik-titik merah di bagian bawah. Dihias dengan rerenda putih pula. Tentunya kakiku makin tampak jenjang, dan anggun. Kupakai sabuk hitam manis pemberianmu di pinggangku. Kamu sangat suka bagian pinggulku tampak seksi. Ya, sepertiku malam ini. Menawan. Aku mengagumi diriku sendiri.
Baru kusadar jika warna kuning ini tak baik untuk kesehatanku. Aku sakit. Aku tidak percaya diri. Aku depresi. Ada apa ini. Padahal harusnya aku ini model profesional yang selalu tampak menawan di tiap langkahnya. Ah, aku harus pulang. Aku rindu pelukmu. Aku rindu kritik pedasmu tentang bagaimana seharusnya aku. Aku rindu anak-anak kita, A. Aku rindu kamu. Aku pulang, ya.
Sesampai di rumah, sambut aku dengan gaun tercantik untukku ya. Dengan senyummu yang khas. Dengan ciummu yang kirindu. Dengan pandang matamu mengagumiku selalu. Aku pulang, A-ku.
Aku mengagumi cerminan diriku sendiri pada kaca rias lemari tempatku menyimpan baju-baju pestaku. Gaun-gaun ragam warna semi hingga dingin. Gaun yang bercerita musim demi musim kulalui; tanpamu. Aku tak pernah menyimpan topeng disana. Sudah kubuang semua hal yang selalu merusak nafas kamar kita. Aku selalu merias diriku dengan pink, tosca, bahkan pelangi. Dan aku selalu menikmati saat-saat kau merajuk, memanjaku dengan menyematkan jenar di gaunku. Aku cantik, katamu.
Malam ini aku memakai gaun dengan warna tak-semua-orang-suka. Long dress kuning dengan titik-titik merah di bagian bawah. Dihias dengan rerenda putih pula. Tentunya kakiku makin tampak jenjang, dan anggun. Kupakai sabuk hitam manis pemberianmu di pinggangku. Kamu sangat suka bagian pinggulku tampak seksi. Ya, sepertiku malam ini. Menawan. Aku mengagumi diriku sendiri.
Baru kusadar jika warna kuning ini tak baik untuk kesehatanku. Aku sakit. Aku tidak percaya diri. Aku depresi. Ada apa ini. Padahal harusnya aku ini model profesional yang selalu tampak menawan di tiap langkahnya. Ah, aku harus pulang. Aku rindu pelukmu. Aku rindu kritik pedasmu tentang bagaimana seharusnya aku. Aku rindu anak-anak kita, A. Aku rindu kamu. Aku pulang, ya.
Sesampai di rumah, sambut aku dengan gaun tercantik untukku ya. Dengan senyummu yang khas. Dengan ciummu yang kirindu. Dengan pandang matamu mengagumiku selalu. Aku pulang, A-ku.
Friday, 15 August 2014
Posted by INKHitam on 8/15/2014 10:21:00 am with No comments
Teruntuk kegagapanku, aku berterimakasih. Tanpa memahami diriku sendiri, tak mungkin aku bisa memahami orang lain. Walau aku masih terlalu sering memasang ego saat hendak kecelakaan. Aku menyelamatkan diriku sendiri. Defensive. Mungkin itu definisi malam pada jarak yang menyamarkan rembulan. Aku kini semakin sayang pada diriku sendiri. Ini fase 'satu'.
Melangkahlah aku pada fase 'dua'. Dimana A bukan lagi sekedar A. A kini adalah A yang... Ah, asli, jernih, genuine, makna sebenarnya. A adalah bilangan yang kukenalkan pada anak-anak manusia sebagai pasanganku, yang juga A. Hihihi.. Unik memang. Kami bagai cermin. Aku melihat diriku pada dirinya. Sehingga saat marah, kangen, sedih, tertawa, kami tak pernah mendusta. Dia pun selalu mengikuti upacara hari-hari yang kami tentukan sendiri untuk diperingati, sebagai kepala suku tentunya. Dan aku selalu bangga bisa menjadi bagian dari kepala suku. Aku tak pernah diposisikan sebagai wakil. Itu yang membuatku sangat menghargai dan menghormatinya. Aku yang 'terlalu mandiri', dilatih untuk kemudian menjadi pribadi yang menghargai pasangan itu ada sebagai 'pasangan'. Bukan untuk bongkar pasang, dibongkar ketika tidak butuh, dipasangan ketika butuh. Aku sangat bahagia mendampingi A yang tidak pernah menganggap hubungan ini main-main. Atau menganggap aku mainan. Rerata lelaki seperti itu. Padaku. Hukum ini tidak berlaku untuk wanita lain. Jadi, jangan tersinggung jika aku terlalu memuji A-ku and bring myself into the sky. Ulaalaaa~
Fase 'tiga'. Ini tidak berat. Ini pun tak mudah. Berkali yang kami ingat adalah istilah "ojo nggege mongso". Bahkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Maka, kami terus memperbaiki diri dan bayangan. Agar kiranya jika waktu terindah kami tiba, tak ada yang terganggu dengan bayang-bayang kami. Agar pun jika waktu terpanas kami tiba, bebayang kami pun hanya memberatkan diri kami, tak membebani B, C, D, ...., Z. Apalagi ketika malam kami beradu, tak ada berisik hingga tetangga terdekat tau. Ah, kau imamku, sayang. Aku cinta.
'Empat', bilangan yang tak pernah kami duga. Pelangi muncul setelah hujan di waktu terik. Sangat melegakan. Sangat indah. Sakinah, mawaddah, warrohmah itu bukan sekadar istilah. Itu ada. Kami membuktikan itu.Adapun sabar selalu berbuah manis. Adapun kedewasaan selalu berawal dari belajar. Tak perlu kami menyebut bibit apa saja yang kami usahakan. Toh nanti juga akan berbuah, dan semoga buah itu manis, karena benihnya dari pohon yang manis-manis. Ah, bittersweet. Itu pewarna. Yang pasti kami belajar banyak untuk meracik, memasak, agar nantinya ceria anak cucu kami yang meneruskan pada dunia, bagaimana kami saling mencinta. A-mu dan A-ku. Sayang, ayo lari lagi. Orang tua tak selamanya berusia 50. Dan malam tak pernah benar-benar mengirimkan surat terbuka akan kedatangannya. Mari genggam bersama senyum dan harap orang-orang tercinta. Eling, nak. Kowe wes gedhe lho. Ah, ibuk, bapak, papa, mama. Peluk hangat kami untuk kalian. Semoga cinta kalian bisa kami teruskan pada anak cucu nanti. Semoga semakin hangat, semakin dalam, semakin merasuk bermanfaat bagi semesta.
Bilangan 'lima'. A-ku dan A-mu sedang melangkahkan kaki. Bismillah..
Monday, 12 May 2014
Posted by INKHitam on 5/12/2014 08:15:00 am with 2 comments
Hidup, mempunyai definisi sendiri-sendiri, bergantung pada apa yang kita yakini. Seorang sutradara memaknai hidup selaksa panggung sandiwara: komedi-tragis. Seorang pelari mengatakan hidup adalah tempat untuk berlari. Maka berlarilah, selagi kamu mampu. Garis finish menurut pelari juga berbeda-beda. Ada yang mengatakan, aku sudah tak sanggup bernafas, maka aku sudah sampai pada finish-ku. Ada pula yang bilang, tiga perempat rute ini kulalui, setelah itu aku pulang. Ada yang teguh berkeyakinan bahwa garis finish adalah tujuan akhir seorang pelari yang disebut sebagai pemenang.
Bagi beberapa orang, lari merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bagi kebanyakan orang, lari itu kegiatan yang hanya bikin tubuh lelah. Lari. Ah.. Aku suka dengan kalimat temanku: Aku, separuh pelari, separuh pejalan kaki. Iya, kadang kita lari hingga terengah-engah, lupa akan jalan kaki. Jalan kaki saja lupa, apa lagi untuk pulang. Hehehe..
Jika ada yang memaknai hidup seperti pelari, maka peganglah dengan erat apa yang kau yakini. Karena pada dasarnya tak ada lari yang berakhir pada ketiadaan. Semua berbalas.
Bagi beberapa orang, lari merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bagi kebanyakan orang, lari itu kegiatan yang hanya bikin tubuh lelah. Lari. Ah.. Aku suka dengan kalimat temanku: Aku, separuh pelari, separuh pejalan kaki. Iya, kadang kita lari hingga terengah-engah, lupa akan jalan kaki. Jalan kaki saja lupa, apa lagi untuk pulang. Hehehe..
Jika ada yang memaknai hidup seperti pelari, maka peganglah dengan erat apa yang kau yakini. Karena pada dasarnya tak ada lari yang berakhir pada ketiadaan. Semua berbalas.
Sunday, 2 March 2014
Posted by INKHitam on 3/02/2014 05:10:00 pm with No comments
Yang
membedakan antara orang-orang yang bahagia dan yang tidak adalah bahwa
mereka, orang-orang yang bahagia, memilih apa yang ingin mereka pilih. -- Bahauddin
Posted by INKHitam on 3/02/2014 04:44:00 pm with No comments
Mempunyai teman yang suka mengeluh itu sangat tidak mengenakkan. Jelas, tidak enak buat dilihat, didengar, bahkan dimakan. *Makan ati tau nggak. Huft.. Tiap ada tugas, mesti komentar: Aduh bro, ini susah bingits. Mau dikerjakan macam apa aja susah. Nggak bisa dikerjakan kayaknya. *itu komentar datangnya ajaib sekali. Belum juga dia buka buku, even she hasn't read the instruction of the assignment yet! Keren, kan? Itu masih tentang tugas, guys. Belum tentang hal lain-lain, misal nih: Pacar gueh itu sulit banget dikerjain, Brooo.. *Matih deh -___-"
Sialnya, aku itu orangnya gak bisa bilang 'nggak'. Semacam hal yang amat sangat tabu buat menolak untuk membantu orang lain. Makanya, mau tidak mau aku musti menjauh dari dia. Entah duduknya yang berjauhan, entah milih beda kelompok dengan dia, de el el. Tapi, yang namanya temen sekelas itu mau tidak mau musti ketemu tiap kuliah. Cara untuk mengatasinya tinggal satu: bersabar, dan bersyukur. :-D
1. Sabar
Sabar itu dengan cara mengiyakan apa yang dia keluhkan, memasang muka 'seolah-olah' memperhatikan dia waktu bicara (padahal pikiran ini udah nyampe mana-mana), senyum waktu dia bilang 'aku bisa, kan?', dan selalu kututup dengan mengatakan 'Sabar ya..' :-D
2. Syukur
Alhamdulillahirobbil'aalamiin.. Alhamdulillah, Ya Rabb.. Setidaknya bisa dijadikan pelajaran untuk menghindari sikap, sifat yang demikian karena itu ternyata merugikan orang lain. Aku bukan seorang yang sok suci, seolah tidak pernah bersikap yang seperti itu. Tapi, minimal ini bisa dijadikan alarm kedepannya agar tidak salah jalan lagi. :) *macak bijak *tsah.. *hahahaha
Sialnya, aku itu orangnya gak bisa bilang 'nggak'. Semacam hal yang amat sangat tabu buat menolak untuk membantu orang lain. Makanya, mau tidak mau aku musti menjauh dari dia. Entah duduknya yang berjauhan, entah milih beda kelompok dengan dia, de el el. Tapi, yang namanya temen sekelas itu mau tidak mau musti ketemu tiap kuliah. Cara untuk mengatasinya tinggal satu: bersabar, dan bersyukur. :-D
1. Sabar
Sabar itu dengan cara mengiyakan apa yang dia keluhkan, memasang muka 'seolah-olah' memperhatikan dia waktu bicara (padahal pikiran ini udah nyampe mana-mana), senyum waktu dia bilang 'aku bisa, kan?', dan selalu kututup dengan mengatakan 'Sabar ya..' :-D
2. Syukur
Alhamdulillahirobbil'aalamiin.. Alhamdulillah, Ya Rabb.. Setidaknya bisa dijadikan pelajaran untuk menghindari sikap, sifat yang demikian karena itu ternyata merugikan orang lain. Aku bukan seorang yang sok suci, seolah tidak pernah bersikap yang seperti itu. Tapi, minimal ini bisa dijadikan alarm kedepannya agar tidak salah jalan lagi. :) *macak bijak *tsah.. *hahahaha
Subscribe to:
Comments (Atom)







