Wednesday, 3 September 2014

Kepada Mas Martabak Manis

          Ketahuilah bahwa manisnya hidup itu tak bisa ditakar; meski dengan timbangan besi abu-abu, di balai desa tempat para gadis membersihkan sisa gabah. Pun dengan terigu --yang menurut para pemasak-- cukup satu kilo saja untuk membuatmu utuh. Membuatmu cukup untuk menampung gula-gula dalam badanmu. Tetap kau menagih takaran. Kau butuh bilangan yang menjanjikan. Tolak ukur. Iya, aku tahu.


Anak Cucu dan Kemacetan

          Apa yang terbersit dalam pikiran kalian saat disodori pertanyaan: "Apa dampak paling menakutkan dari beranak pinaknya kendaraan bermotor?"
          Tiap individu pasti memiliki ketakutan yang berbeda. Variasi jawabannya bisa mewakili kepentingan pribadi, hingga negara. Keluhan pribadi bisa jadi semakin parah penyakit yang menyerang paru-paru sehingga memerlukan biaya berobat yang tidak sedikit, hingga risih, macet, pusing, yang masih bersifat individual. Dan hal ini dengan mudahnya ditangkas oleh para pengemudi kendaraan bermotor bahwa asap kendaraan tak semenakutkan asap rokok, macet itu dinikmati saja. Pusing? Itu urusanmu sendiri. Gue mah ogah ngurusin orang.

Parkiran motor di kampus-kampus di Indonesia

Wednesday, 20 August 2014

Life is too short

          My life is normal; it is like a blanket that's too short for a bed -- sometimes it covers you just fine, and other times it leaves you cold and shaking; and worst of all. We never know which of the two it's going to be.

          Aku mengagumi cerminan diriku sendiri pada kaca rias lemari tempatku menyimpan baju-baju pestaku. Gaun-gaun ragam warna semi hingga dingin. Gaun yang bercerita musim demi musim kulalui; tanpamu. Aku tak pernah menyimpan topeng disana. Sudah kubuang semua hal yang selalu merusak nafas kamar kita. Aku selalu merias diriku dengan pink, tosca, bahkan pelangi. Dan aku selalu menikmati saat-saat kau merajuk, memanjaku dengan menyematkan jenar di gaunku. Aku cantik, katamu.

          Malam ini aku memakai gaun dengan warna tak-semua-orang-suka. Long dress kuning dengan titik-titik merah di bagian bawah. Dihias dengan rerenda putih pula. Tentunya kakiku makin tampak jenjang, dan anggun. Kupakai sabuk hitam manis pemberianmu di pinggangku. Kamu sangat suka bagian pinggulku tampak seksi. Ya, sepertiku malam ini. Menawan. Aku mengagumi diriku sendiri.

          Baru kusadar jika warna kuning ini tak baik untuk kesehatanku. Aku sakit. Aku tidak percaya diri. Aku depresi. Ada apa ini. Padahal harusnya aku ini model profesional yang selalu tampak menawan di tiap langkahnya. Ah, aku harus pulang. Aku rindu pelukmu. Aku rindu kritik pedasmu tentang bagaimana seharusnya aku. Aku rindu anak-anak kita, A. Aku rindu kamu. Aku pulang, ya.

          Sesampai di rumah, sambut aku dengan gaun tercantik untukku ya. Dengan senyummu yang khas. Dengan ciummu yang kirindu. Dengan pandang matamu mengagumiku selalu. Aku pulang, A-ku.



Friday, 15 August 2014

Mengurai Langkah dan Bayangan


          Teruntuk kegagapanku, aku berterimakasih. Tanpa memahami diriku sendiri, tak mungkin aku bisa memahami orang lain. Walau aku masih terlalu sering memasang ego saat hendak kecelakaan. Aku menyelamatkan diriku sendiri. Defensive. Mungkin itu definisi malam pada jarak yang menyamarkan rembulan. Aku kini semakin sayang pada diriku sendiri. Ini fase 'satu'.

          Melangkahlah aku pada fase 'dua'. Dimana A bukan lagi sekedar A. A kini adalah A yang... Ah, asli, jernih, genuine, makna sebenarnya. A adalah bilangan yang kukenalkan pada anak-anak manusia sebagai pasanganku, yang juga A. Hihihi.. Unik memang. Kami bagai cermin. Aku melihat diriku pada dirinya. Sehingga saat marah, kangen, sedih, tertawa, kami tak pernah mendusta. Dia pun selalu mengikuti upacara hari-hari yang kami tentukan sendiri untuk diperingati, sebagai kepala suku tentunya. Dan aku selalu bangga bisa menjadi bagian dari kepala suku. Aku tak pernah diposisikan sebagai wakil. Itu yang membuatku sangat menghargai dan menghormatinya. Aku yang 'terlalu mandiri', dilatih untuk kemudian menjadi pribadi yang menghargai pasangan itu ada sebagai 'pasangan'. Bukan untuk bongkar pasang, dibongkar ketika tidak butuh, dipasangan ketika butuh. Aku sangat bahagia mendampingi A yang tidak pernah menganggap hubungan ini main-main. Atau menganggap aku mainan. Rerata lelaki seperti itu. Padaku. Hukum ini tidak berlaku untuk wanita lain. Jadi, jangan tersinggung jika aku terlalu memuji A-ku and bring myself into the sky. Ulaalaaa~

          Fase 'tiga'. Ini tidak berat. Ini pun tak mudah. Berkali yang kami ingat adalah istilah "ojo nggege mongso". Bahkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Maka, kami terus memperbaiki diri dan bayangan. Agar kiranya jika waktu terindah kami tiba, tak ada yang terganggu dengan bayang-bayang kami. Agar pun jika waktu terpanas kami tiba, bebayang kami pun hanya memberatkan diri kami, tak membebani B, C, D, ...., Z. Apalagi ketika malam kami beradu, tak ada berisik hingga tetangga terdekat tau. Ah, kau imamku, sayang. Aku cinta.

          'Empat', bilangan yang tak pernah kami duga. Pelangi muncul setelah hujan di waktu terik. Sangat melegakan. Sangat indah. Sakinah, mawaddah, warrohmah itu bukan sekadar istilah. Itu ada. Kami membuktikan itu.Adapun sabar selalu berbuah manis. Adapun kedewasaan selalu berawal dari belajar. Tak perlu kami menyebut bibit apa saja yang kami usahakan. Toh nanti juga akan berbuah, dan semoga buah itu manis, karena benihnya dari pohon yang manis-manis. Ah, bittersweet. Itu pewarna. Yang pasti kami belajar banyak untuk meracik, memasak, agar nantinya ceria anak cucu kami yang meneruskan pada dunia, bagaimana kami saling mencinta. A-mu dan A-ku. Sayang, ayo lari lagi. Orang tua tak selamanya berusia 50. Dan malam tak pernah benar-benar mengirimkan surat terbuka akan kedatangannya. Mari genggam bersama senyum dan harap orang-orang tercinta. Eling, nak. Kowe wes gedhe lho. Ah, ibuk, bapak, papa, mama. Peluk hangat kami untuk kalian. Semoga cinta kalian bisa kami teruskan pada anak cucu nanti. Semoga semakin hangat, semakin dalam, semakin merasuk bermanfaat bagi semesta.

          Bilangan 'lima'. A-ku dan A-mu sedang melangkahkan kaki. Bismillah..


Monday, 12 May 2014

Lari, Terengah-engah, dan Pulang

          Hidup, mempunyai definisi sendiri-sendiri, bergantung pada apa yang kita yakini. Seorang sutradara memaknai hidup selaksa panggung sandiwara: komedi-tragis. Seorang pelari mengatakan hidup adalah tempat untuk berlari. Maka berlarilah, selagi kamu mampu. Garis finish menurut pelari juga berbeda-beda. Ada yang mengatakan, aku sudah tak sanggup bernafas, maka aku sudah sampai pada finish-ku. Ada pula yang bilang, tiga perempat rute ini kulalui, setelah itu aku pulang. Ada yang teguh berkeyakinan bahwa garis finish adalah tujuan akhir seorang pelari yang disebut sebagai pemenang.
         
          Bagi beberapa orang, lari merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bagi kebanyakan orang, lari itu kegiatan yang hanya bikin tubuh lelah. Lari. Ah.. Aku suka dengan kalimat temanku: Aku, separuh pelari, separuh pejalan kaki. Iya, kadang kita lari hingga terengah-engah, lupa akan jalan kaki. Jalan kaki saja lupa, apa lagi untuk pulang. Hehehe..

          Jika ada yang memaknai hidup seperti pelari, maka peganglah dengan erat apa yang kau yakini. Karena pada dasarnya tak ada lari yang berakhir pada ketiadaan. Semua berbalas.


Sunday, 2 March 2014

Yang membedakan antara orang-orang yang bahagia dan yang tidak adalah bahwa mereka, orang-orang yang bahagia, memilih apa yang ingin mereka pilih. -- Bahauddin

Drop Everything and be Grateful, Please!

          Mempunyai teman yang suka mengeluh itu sangat tidak mengenakkan. Jelas, tidak enak buat dilihat, didengar, bahkan dimakan. *Makan ati tau nggak. Huft.. Tiap ada tugas, mesti komentar: Aduh bro, ini susah bingits. Mau dikerjakan macam apa aja susah. Nggak bisa dikerjakan kayaknya. *itu komentar datangnya ajaib sekali. Belum juga dia buka buku, even she hasn't read the instruction of the assignment yet! Keren, kan? Itu masih tentang tugas, guys. Belum tentang hal lain-lain, misal nih: Pacar gueh itu sulit banget dikerjain, Brooo.. *Matih deh -___-"





          Sialnya, aku itu orangnya gak bisa bilang 'nggak'. Semacam hal yang amat sangat tabu buat menolak untuk membantu orang lain. Makanya, mau tidak mau aku musti menjauh dari dia. Entah duduknya yang berjauhan, entah milih beda kelompok dengan dia, de el el. Tapi, yang namanya temen sekelas itu mau tidak mau musti ketemu tiap kuliah. Cara untuk mengatasinya tinggal satu: bersabar, dan bersyukur. :-D

          1. Sabar
              Sabar itu dengan cara mengiyakan apa yang dia keluhkan, memasang muka 'seolah-olah' memperhatikan dia waktu bicara (padahal pikiran ini udah nyampe mana-mana), senyum waktu dia bilang 'aku bisa, kan?', dan selalu kututup dengan mengatakan 'Sabar ya..' :-D

          2. Syukur
              Alhamdulillahirobbil'aalamiin.. Alhamdulillah, Ya Rabb.. Setidaknya bisa dijadikan pelajaran untuk menghindari sikap, sifat yang demikian karena itu ternyata merugikan orang lain. Aku bukan seorang yang sok suci, seolah tidak pernah bersikap yang seperti itu. Tapi, minimal ini bisa dijadikan alarm kedepannya agar tidak salah jalan lagi. :) *macak bijak *tsah.. *hahahaha

Friday, 8 November 2013

Disini, Masih Pagi dan Embun Masih Serupa

          Selamat pagi, mimpi-mimpi. Aku selalu berusaha menyemangati diri untuk bangun, padahal serial mimpi dalam malam tidurku sangat indah. Kata orang, kecewa pagi hari itu tidak baik; menyebabkan kerapuhan otak dan pola pikir. Iya juga sih, merebaknya masalah itu juga akhirnya ke stabilisasi ekonomi dan standarisasi diri. #tsaah #ngomong apa sih. -,-"

          Langsung aja to the point:

          Disini, pagi dan embun masih serupa
          Rupa-rupanya dingin enggan beranjak dan membelikanku eskrim
          Padahal dalam dingin mimpiku, eskrim merupa selimut

         Embun, datang di pucuk daun yang sama
         Bertemu di pagi yang sayupsayup
         Kemudian menghilang, bersama dengan beranjaknya mimpi
         Mungkin juga beriringan dengan lumeran eskrim siang tadi.
        

Saturday, 17 August 2013

Hening, dan A Belajar

          Bersamamu mungkin masih sewarsa, namun banyak hal yang bisa dipelajari. Mulai dari bagaimana caraku harus menatapmu, berbicara, tersenyum yang kau suka, menyampaikan pendapatmu dengan suaraku, hingga akhirnya semua yang sebenar-benarnya tentangku sudah berubah menjadi 'aku yang kamu'. Kamu yang manja, yang tegas, yang bijaksana, yang gemar menawarkan canda di awal, ternyata sebenar-benarnya bukan begitu. Kamu ternyata, ah kamu.

          Sangat mengejutkan ketika dirimu yang sebenarnya datang, dan menyapa pagiku yang sudah kulukis dengan awan putih-putih dalam bentuk senyum. Senyum yang kau suka. Tiba-tiba aku sudah tidak mengenali dirimu lagi. Entah kau kemanakan jaket yang biasa kau pakai, tas yang biasa kau tenteng, dan matahari yang biasa menyelimuti kulitmu?

          Ah, aku belajar mengenai komitmen. Aku belajar mengenai tanggung jawab. Aku belajar tentang bagaimana harus hidup dan bersikap. Semoga kau juga.

          Aku suka kamu yang dulu. A.

Friday, 2 August 2013

Selamat Datang, A!

          A mulai belajar mencintai hidupnya. Perihal pasangannya, dia mulai mereka-reka bagaimana hidup akan berjalan, selanjutnya. Selancar eskalator yang baru dipasang di mall-mall Indonesia -- mungkin. A tak pernah tahu kemana angin dari Tuhan meniupkan nasibnya, hingga beberapa saat lampau ia pernah menabrak karang-karang di laut. Tabrakan itu membawa luka, tentunya bagi para lelaki yang mengidamkannya. Entahlah, ia terkadang merasa hidup itu tak adil.
       
          A mempunyai pasangan yang entah kenapa ia tidak suka. Akhir-akhir ini saja. Mungkin karena ia tidak pernah menyapa bagian hati terdalam partnernya itu, atau mungkin leluka bekas hembusan karang itu membuatnya takut. Ya, ia trauma.




          Lirih, ia bertanya pada sepi yang akhir-akhir ini menemaninya. Apa sebenarnya ia inginkan? Kenikmatan semata? Kenyamanan? Pernah ia membaca, "Hubungan baru itu selalu lebih menyenangkan. Itulah ketidakadilan." Sejak itu ia merasa bahwa ia sudah berbuat tidak adil. Ia sudah tidak adil pada pasangannya. Ia membohongi bagaimana kenyamanan yang diinginkannya. Ia juga secara tidak langsung sudah berlaku tidak adil pada dirinya sendiri. Ia merasa mempermainkan nafsu dan nuraninya. Ia belum menemukan apa yang dimaksud kebanyakan orang dengan 'cinta' ataupun 'sayang'. Entahlah, apapun yang terjadi kelak, memang manusiawi. Manusia terdiri dari kromosom x dan y. Kromosom autosom dan seks. Sudah manusiawi jika manusia akan bersinggungan dengan sifat dan seks manusia lainnya. Menyamaratakan perlakuan? Boleh lah.. Berarti yang akan terjadi hanya 'A akan memperlakukan pasangannya seperti manusia kebanyakan. Tidak lebih.' Bukankah yang diistimewakan hanya Tuhan?


Bisik Si A

          Aku menegakkan apa yang kusebut dengan prinsip. Aku mempunyai hak dan kewajiban, begitu pula kamu. Untuk itu, aku sangat menginginkan yang namanya privasi. Entah privasi dalam hal apapun. Aku juga berhak untuk memilih siapa saja teman yang kusuka, begitu pula teman-temanmu. Tak semuanya kusuka. Aku manusiawi, bukan? Aku bukan Tuhan.

          Aku memutuskan untuk tidak menikah. Atau mungkin tidak menikah dalam jangka waktu dekat. Mengingat tidak semua sikap dan sifatmu bisa kuterima. Aku hanya menikah pada orang yang sepaham denganku. Bukan yang -kejawen- sepertimu. Jika kehangatan keluarga tak ingin kau sesap, jangan ajak aku untuk berdingin durja. Aku tak ingin seumur hidupku berdingin-dingin dalam bungkaman kutub selatan yang bahkan belum pernah kau jelajahi.

          Selamat datang, pria lajang. Selamat datang di kehidupan seorang wanita yang sebenarnya tak ingin sendiri, namun ia enggan berbagi dengan "banyak". Selamat datang, tiga rumah dengan tuannya yang familiar. Selamat datang, Rumah kesatu! Pondok hidupku. Selamat datang, Rumah kedua! Hunian autismu.

          Selamat datang, Rumah ketiga! Tempat berteduh kita berdua, dan rahasia-rahasia kecil kita.