Thursday, 19 January 2017

Kos, Kontrak Rumah, atau KPR?

          Kehidupan setelah menikah memang membutuhkan perhatian yang khusus. Bagaimana tidak? Menyatukan dua kemauan dalam satu tujuan itu jarang langsung bisa menemukan titik nemu. Kalau kamu dan pasangan memiliki pola pikir yang sama sejak awal, congratulations... it would be easier to drive in. Tetapi, sekali lagi, pasti ada ketidakcocokan meskipun dalam skala kecil. Aku dan suami tidak seberapa lama saling kenal. Kami memutuskan menikah dan membuat beberapa komitmen dan perjanjian. Sounds too formal, but I think it is the easiest way to live in two heads. Komitmen pertama, tentunya setia. Aku datang sebagai istrimu, dan meninggal -Insyaallah- sebagai istrimu. Begitu juga dengan dia. Setia, dan berbagai hal lainnya mencakup komitmen yang tidak perlu saya jabarkan disini. Hingga sampailah pada pembahasan perjanjian yang lucu-lucu menurutku. Kenapa lucu? Karena sebagian besar perjanjian, kebanyakan aku yang membuatnya. Hehehe.. -the power of being a woman-

          Perjanjian yang paling bikin dia pusing di awal adalah; aku nggak mau terlalu ribet ngurus rumah tangga saat tesisku belum kelar. Hahaha.. Ini sudah paten. Kami bingung mau tinggal dimana. Untuk biaya, Alhamdulillah kami masih ada tabungan kalau mau ngurus KPR atau kontrak rumah. Lalu kami survei perumahan-perumahan yang dalam jangkauan kami. Jangkauan disini bukan hanya masalah finansial, tetapi juga tentang waktu dan jarak tempuh menuju tempat kerja dan beberapa tempat publik lainnya. Daaann, belum ada yang cocok dengan kemauan kami. Perumahan itu identik dengan pengembangnya nakal atau tidak, lalu ada opsi untuk custom design atau nggak, misal kami tambah dana untuk ganti batu, pasir, dan semen dengan kualitas lebih untuk pondasi gimana? Endebrayy endebraaayyyy eplekenyes yang berakhir dengan: ih rumit ih. Kita kan juga harus segera move. Seketika kami terdiam dan mencari opsi di bawahnya: nyari kontrakan.

          Kontrakan di Kota Malang ternyata tidak semudah nyari gabah dalam tumpukan beras. *uopoooo.. Sebenernya termasuk mudah. Kami mendapat banyak sekali tawaran kontrakan. Mulai harga biasa hingga luar biasa. Hahaha.. Tapi mungkin kami saja yang rewel dan bawel. Kontrakan itu harus memenuhi syarat kami: udara bersih -karena aku ada asma-, air gimana, listrik gimana, jumlah kamar -1 kamar aja sih gak masalah-, ventilasi, kamar mandi, dapur, tempat nyuci, hingga berakhir di lingkungannya gimana. Rata-rata tersandung masalah ventilasi udara. banyak kontrakan yang pengap. Dan aku masih mikir-mikir, gimana kalau aku sesak napas tiap hari? Oh nooo.. Hingga ada satu kontrakan yang kami cocok, tapi ternyata lingkungannya tidak aman. So sad.

           Oh iya, selama pencarian itu, kami tinggal di rumah orang tuanya suami. Sekitar 40 menit perjalanan saja ke kantor kalau nggak macet (kurang lebih km). Masalahnya adalah, arah kami itu area sering macet dan jam kerja kami yang berbeda jauh. Aku masuk pagi, suami masuk siang. Aku pulang jam 3 sore, suami pulang paling cepat setelah maghrib. You know it right, I'm waiting for such duration. *sigh* Awalnya kami masih sama-sama keep kos lama kami untuk tempat menunggu. Tapi lama-lama kerasa itu borosnya buat bayar dua kosan. Dua minggu pulang pergi, akhirnya saya memutuskan untuk mencari kos rumah tangga saja. Iya, saya yang memutuskan, karena badan saya nggak sesehat suami saya dan beberapa alasan lain. Hihihi..

And, here we are, at our new boarding house <3 p=""><3 br=""> <3 br="">
           


<3 p=""><3 br="">
<3 p=""><3 br="">
<3 p=""><3 br="">

Saturday, 19 November 2016

Contento de Estar de Vuelta :D *Holaaaa, I'm Back

Holaaaaa, Amigooos :-D

I’m back. Well, not literary gone somewhere, but I did a lil escape from this blog (which is actually an excuse *giggling*). Hihihi.. Anyway, there are soooo many things happen in these few months (almost a year T.T). Those are: falling in love (part 1), proposed by someone (also part 1), planning to get married (part 1), preparing anything related to it (still part 1), drown that deep since knowing that he got sick *that serious illness* *poor me* *oh no, poor us T_T*, canceling all the things (the hall, the catering, the EVERYTHING). Huhuhu..
.
.
.
.
No, not yet end up.
.
.
.
.
Next: MOVING ON T.T, proposed by another man (part 2), thinking here and there whether I’ll go with him or not, thinking here and there whether I’ll go with him or not (12 times), thinking here and there whether I’ll go with him or not (for more than 3957984363 times T_T), aaaand finally I said YES to another man (whom today I sleep with. Hahaha..), planning for the wedding party -for about 6 months left from the proposal-, feeling doubt – agreed – feeling doubt – say yes again – convinced, preparing everything related to the ceremony and also the party, then we were in the Ijab Qabul day, being cruel to anyone, aaaaaand now I’m here; after all. *Pyuhh* *Alhamdulillaaaah*


Ladies and Gentlemen,

Thursday, 31 December 2015

Tentang Halaman Satu dari 365



          Sekelebat ke belakang, masing-masing kita pasti sudah mengambil keputusan. Dan hari ini sebagian dari kita pastinya sedang berjalan berdasar pada keputusan yang sudah diambil; sebagian lainnya mungkin sudah menjalani keputusan yang lain. Nafsi-nafsi orang bilang.

http://lifehackreads.in/wp-content/uploads/2015/07/happiness-balloons.jpg

          Postingan ini mungkin lebih membahas tentang mereka yang sekarang sedang berjalan pada keputusan yang diambil. People make a decision and grab all of the consequences upon it. Beberapa dari kita mungkin sudah berada pada puncak dari keputusan: lulus S1, lulus S2, lulus S3, menikah, punya anak, bekerja kantoran, PNS, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Sedangkan lainnya masih bergerak tertatih: maju mundur bimbingan (~baiklah yang ini curcol), sedang bekerja keras membiayai sekolahnya (~ini curcol uga. Hahaha..), bosan pada pekerjaannya yang IIS [itu-itu sajhaaa], atau bahkan ada yang sudah menyerah pada keadaan dan sedang menata diri. Apapun itu, kehidupan tidak pernah berhenti. Life never offers you a comfort zone forever. 

Monday, 16 March 2015

Menunggumu di Ruang Operasi

You've done your best, honey. Istirahatlah. Pasrahlah, sayang. :'-)

Wednesday, 3 September 2014

Kepada Mas Martabak Manis

          Ketahuilah bahwa manisnya hidup itu tak bisa ditakar; meski dengan timbangan besi abu-abu, di balai desa tempat para gadis membersihkan sisa gabah. Pun dengan terigu --yang menurut para pemasak-- cukup satu kilo saja untuk membuatmu utuh. Membuatmu cukup untuk menampung gula-gula dalam badanmu. Tetap kau menagih takaran. Kau butuh bilangan yang menjanjikan. Tolak ukur. Iya, aku tahu.


Anak Cucu dan Kemacetan

          Apa yang terbersit dalam pikiran kalian saat disodori pertanyaan: "Apa dampak paling menakutkan dari beranak pinaknya kendaraan bermotor?"
          Tiap individu pasti memiliki ketakutan yang berbeda. Variasi jawabannya bisa mewakili kepentingan pribadi, hingga negara. Keluhan pribadi bisa jadi semakin parah penyakit yang menyerang paru-paru sehingga memerlukan biaya berobat yang tidak sedikit, hingga risih, macet, pusing, yang masih bersifat individual. Dan hal ini dengan mudahnya ditangkas oleh para pengemudi kendaraan bermotor bahwa asap kendaraan tak semenakutkan asap rokok, macet itu dinikmati saja. Pusing? Itu urusanmu sendiri. Gue mah ogah ngurusin orang.

Parkiran motor di kampus-kampus di Indonesia

Wednesday, 20 August 2014

Life is too short

          My life is normal; it is like a blanket that's too short for a bed -- sometimes it covers you just fine, and other times it leaves you cold and shaking; and worst of all. We never know which of the two it's going to be.

          Aku mengagumi cerminan diriku sendiri pada kaca rias lemari tempatku menyimpan baju-baju pestaku. Gaun-gaun ragam warna semi hingga dingin. Gaun yang bercerita musim demi musim kulalui; tanpamu. Aku tak pernah menyimpan topeng disana. Sudah kubuang semua hal yang selalu merusak nafas kamar kita. Aku selalu merias diriku dengan pink, tosca, bahkan pelangi. Dan aku selalu menikmati saat-saat kau merajuk, memanjaku dengan menyematkan jenar di gaunku. Aku cantik, katamu.

          Malam ini aku memakai gaun dengan warna tak-semua-orang-suka. Long dress kuning dengan titik-titik merah di bagian bawah. Dihias dengan rerenda putih pula. Tentunya kakiku makin tampak jenjang, dan anggun. Kupakai sabuk hitam manis pemberianmu di pinggangku. Kamu sangat suka bagian pinggulku tampak seksi. Ya, sepertiku malam ini. Menawan. Aku mengagumi diriku sendiri.

          Baru kusadar jika warna kuning ini tak baik untuk kesehatanku. Aku sakit. Aku tidak percaya diri. Aku depresi. Ada apa ini. Padahal harusnya aku ini model profesional yang selalu tampak menawan di tiap langkahnya. Ah, aku harus pulang. Aku rindu pelukmu. Aku rindu kritik pedasmu tentang bagaimana seharusnya aku. Aku rindu anak-anak kita, A. Aku rindu kamu. Aku pulang, ya.

          Sesampai di rumah, sambut aku dengan gaun tercantik untukku ya. Dengan senyummu yang khas. Dengan ciummu yang kirindu. Dengan pandang matamu mengagumiku selalu. Aku pulang, A-ku.



Friday, 15 August 2014

Mengurai Langkah dan Bayangan


          Teruntuk kegagapanku, aku berterimakasih. Tanpa memahami diriku sendiri, tak mungkin aku bisa memahami orang lain. Walau aku masih terlalu sering memasang ego saat hendak kecelakaan. Aku menyelamatkan diriku sendiri. Defensive. Mungkin itu definisi malam pada jarak yang menyamarkan rembulan. Aku kini semakin sayang pada diriku sendiri. Ini fase 'satu'.

          Melangkahlah aku pada fase 'dua'. Dimana A bukan lagi sekedar A. A kini adalah A yang... Ah, asli, jernih, genuine, makna sebenarnya. A adalah bilangan yang kukenalkan pada anak-anak manusia sebagai pasanganku, yang juga A. Hihihi.. Unik memang. Kami bagai cermin. Aku melihat diriku pada dirinya. Sehingga saat marah, kangen, sedih, tertawa, kami tak pernah mendusta. Dia pun selalu mengikuti upacara hari-hari yang kami tentukan sendiri untuk diperingati, sebagai kepala suku tentunya. Dan aku selalu bangga bisa menjadi bagian dari kepala suku. Aku tak pernah diposisikan sebagai wakil. Itu yang membuatku sangat menghargai dan menghormatinya. Aku yang 'terlalu mandiri', dilatih untuk kemudian menjadi pribadi yang menghargai pasangan itu ada sebagai 'pasangan'. Bukan untuk bongkar pasang, dibongkar ketika tidak butuh, dipasangan ketika butuh. Aku sangat bahagia mendampingi A yang tidak pernah menganggap hubungan ini main-main. Atau menganggap aku mainan. Rerata lelaki seperti itu. Padaku. Hukum ini tidak berlaku untuk wanita lain. Jadi, jangan tersinggung jika aku terlalu memuji A-ku and bring myself into the sky. Ulaalaaa~

          Fase 'tiga'. Ini tidak berat. Ini pun tak mudah. Berkali yang kami ingat adalah istilah "ojo nggege mongso". Bahkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Maka, kami terus memperbaiki diri dan bayangan. Agar kiranya jika waktu terindah kami tiba, tak ada yang terganggu dengan bayang-bayang kami. Agar pun jika waktu terpanas kami tiba, bebayang kami pun hanya memberatkan diri kami, tak membebani B, C, D, ...., Z. Apalagi ketika malam kami beradu, tak ada berisik hingga tetangga terdekat tau. Ah, kau imamku, sayang. Aku cinta.

          'Empat', bilangan yang tak pernah kami duga. Pelangi muncul setelah hujan di waktu terik. Sangat melegakan. Sangat indah. Sakinah, mawaddah, warrohmah itu bukan sekadar istilah. Itu ada. Kami membuktikan itu.Adapun sabar selalu berbuah manis. Adapun kedewasaan selalu berawal dari belajar. Tak perlu kami menyebut bibit apa saja yang kami usahakan. Toh nanti juga akan berbuah, dan semoga buah itu manis, karena benihnya dari pohon yang manis-manis. Ah, bittersweet. Itu pewarna. Yang pasti kami belajar banyak untuk meracik, memasak, agar nantinya ceria anak cucu kami yang meneruskan pada dunia, bagaimana kami saling mencinta. A-mu dan A-ku. Sayang, ayo lari lagi. Orang tua tak selamanya berusia 50. Dan malam tak pernah benar-benar mengirimkan surat terbuka akan kedatangannya. Mari genggam bersama senyum dan harap orang-orang tercinta. Eling, nak. Kowe wes gedhe lho. Ah, ibuk, bapak, papa, mama. Peluk hangat kami untuk kalian. Semoga cinta kalian bisa kami teruskan pada anak cucu nanti. Semoga semakin hangat, semakin dalam, semakin merasuk bermanfaat bagi semesta.

          Bilangan 'lima'. A-ku dan A-mu sedang melangkahkan kaki. Bismillah..


Monday, 12 May 2014

Lari, Terengah-engah, dan Pulang

          Hidup, mempunyai definisi sendiri-sendiri, bergantung pada apa yang kita yakini. Seorang sutradara memaknai hidup selaksa panggung sandiwara: komedi-tragis. Seorang pelari mengatakan hidup adalah tempat untuk berlari. Maka berlarilah, selagi kamu mampu. Garis finish menurut pelari juga berbeda-beda. Ada yang mengatakan, aku sudah tak sanggup bernafas, maka aku sudah sampai pada finish-ku. Ada pula yang bilang, tiga perempat rute ini kulalui, setelah itu aku pulang. Ada yang teguh berkeyakinan bahwa garis finish adalah tujuan akhir seorang pelari yang disebut sebagai pemenang.
         
          Bagi beberapa orang, lari merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bagi kebanyakan orang, lari itu kegiatan yang hanya bikin tubuh lelah. Lari. Ah.. Aku suka dengan kalimat temanku: Aku, separuh pelari, separuh pejalan kaki. Iya, kadang kita lari hingga terengah-engah, lupa akan jalan kaki. Jalan kaki saja lupa, apa lagi untuk pulang. Hehehe..

          Jika ada yang memaknai hidup seperti pelari, maka peganglah dengan erat apa yang kau yakini. Karena pada dasarnya tak ada lari yang berakhir pada ketiadaan. Semua berbalas.


Sunday, 2 March 2014

Yang membedakan antara orang-orang yang bahagia dan yang tidak adalah bahwa mereka, orang-orang yang bahagia, memilih apa yang ingin mereka pilih. -- Bahauddin

Drop Everything and be Grateful, Please!

          Mempunyai teman yang suka mengeluh itu sangat tidak mengenakkan. Jelas, tidak enak buat dilihat, didengar, bahkan dimakan. *Makan ati tau nggak. Huft.. Tiap ada tugas, mesti komentar: Aduh bro, ini susah bingits. Mau dikerjakan macam apa aja susah. Nggak bisa dikerjakan kayaknya. *itu komentar datangnya ajaib sekali. Belum juga dia buka buku, even she hasn't read the instruction of the assignment yet! Keren, kan? Itu masih tentang tugas, guys. Belum tentang hal lain-lain, misal nih: Pacar gueh itu sulit banget dikerjain, Brooo.. *Matih deh -___-"





          Sialnya, aku itu orangnya gak bisa bilang 'nggak'. Semacam hal yang amat sangat tabu buat menolak untuk membantu orang lain. Makanya, mau tidak mau aku musti menjauh dari dia. Entah duduknya yang berjauhan, entah milih beda kelompok dengan dia, de el el. Tapi, yang namanya temen sekelas itu mau tidak mau musti ketemu tiap kuliah. Cara untuk mengatasinya tinggal satu: bersabar, dan bersyukur. :-D

          1. Sabar
              Sabar itu dengan cara mengiyakan apa yang dia keluhkan, memasang muka 'seolah-olah' memperhatikan dia waktu bicara (padahal pikiran ini udah nyampe mana-mana), senyum waktu dia bilang 'aku bisa, kan?', dan selalu kututup dengan mengatakan 'Sabar ya..' :-D

          2. Syukur
              Alhamdulillahirobbil'aalamiin.. Alhamdulillah, Ya Rabb.. Setidaknya bisa dijadikan pelajaran untuk menghindari sikap, sifat yang demikian karena itu ternyata merugikan orang lain. Aku bukan seorang yang sok suci, seolah tidak pernah bersikap yang seperti itu. Tapi, minimal ini bisa dijadikan alarm kedepannya agar tidak salah jalan lagi. :) *macak bijak *tsah.. *hahahaha

Friday, 8 November 2013

Disini, Masih Pagi dan Embun Masih Serupa

          Selamat pagi, mimpi-mimpi. Aku selalu berusaha menyemangati diri untuk bangun, padahal serial mimpi dalam malam tidurku sangat indah. Kata orang, kecewa pagi hari itu tidak baik; menyebabkan kerapuhan otak dan pola pikir. Iya juga sih, merebaknya masalah itu juga akhirnya ke stabilisasi ekonomi dan standarisasi diri. #tsaah #ngomong apa sih. -,-"

          Langsung aja to the point:

          Disini, pagi dan embun masih serupa
          Rupa-rupanya dingin enggan beranjak dan membelikanku eskrim
          Padahal dalam dingin mimpiku, eskrim merupa selimut

         Embun, datang di pucuk daun yang sama
         Bertemu di pagi yang sayupsayup
         Kemudian menghilang, bersama dengan beranjaknya mimpi
         Mungkin juga beriringan dengan lumeran eskrim siang tadi.
        

Saturday, 17 August 2013

Hening, dan A Belajar

          Bersamamu mungkin masih sewarsa, namun banyak hal yang bisa dipelajari. Mulai dari bagaimana caraku harus menatapmu, berbicara, tersenyum yang kau suka, menyampaikan pendapatmu dengan suaraku, hingga akhirnya semua yang sebenar-benarnya tentangku sudah berubah menjadi 'aku yang kamu'. Kamu yang manja, yang tegas, yang bijaksana, yang gemar menawarkan canda di awal, ternyata sebenar-benarnya bukan begitu. Kamu ternyata, ah kamu.

          Sangat mengejutkan ketika dirimu yang sebenarnya datang, dan menyapa pagiku yang sudah kulukis dengan awan putih-putih dalam bentuk senyum. Senyum yang kau suka. Tiba-tiba aku sudah tidak mengenali dirimu lagi. Entah kau kemanakan jaket yang biasa kau pakai, tas yang biasa kau tenteng, dan matahari yang biasa menyelimuti kulitmu?

          Ah, aku belajar mengenai komitmen. Aku belajar mengenai tanggung jawab. Aku belajar tentang bagaimana harus hidup dan bersikap. Semoga kau juga.

          Aku suka kamu yang dulu. A.

Friday, 2 August 2013

Selamat Datang, A!

          A mulai belajar mencintai hidupnya. Perihal pasangannya, dia mulai mereka-reka bagaimana hidup akan berjalan, selanjutnya. Selancar eskalator yang baru dipasang di mall-mall Indonesia -- mungkin. A tak pernah tahu kemana angin dari Tuhan meniupkan nasibnya, hingga beberapa saat lampau ia pernah menabrak karang-karang di laut. Tabrakan itu membawa luka, tentunya bagi para lelaki yang mengidamkannya. Entahlah, ia terkadang merasa hidup itu tak adil.
       
          A mempunyai pasangan yang entah kenapa ia tidak suka. Akhir-akhir ini saja. Mungkin karena ia tidak pernah menyapa bagian hati terdalam partnernya itu, atau mungkin leluka bekas hembusan karang itu membuatnya takut. Ya, ia trauma.




          Lirih, ia bertanya pada sepi yang akhir-akhir ini menemaninya. Apa sebenarnya ia inginkan? Kenikmatan semata? Kenyamanan? Pernah ia membaca, "Hubungan baru itu selalu lebih menyenangkan. Itulah ketidakadilan." Sejak itu ia merasa bahwa ia sudah berbuat tidak adil. Ia sudah tidak adil pada pasangannya. Ia membohongi bagaimana kenyamanan yang diinginkannya. Ia juga secara tidak langsung sudah berlaku tidak adil pada dirinya sendiri. Ia merasa mempermainkan nafsu dan nuraninya. Ia belum menemukan apa yang dimaksud kebanyakan orang dengan 'cinta' ataupun 'sayang'. Entahlah, apapun yang terjadi kelak, memang manusiawi. Manusia terdiri dari kromosom x dan y. Kromosom autosom dan seks. Sudah manusiawi jika manusia akan bersinggungan dengan sifat dan seks manusia lainnya. Menyamaratakan perlakuan? Boleh lah.. Berarti yang akan terjadi hanya 'A akan memperlakukan pasangannya seperti manusia kebanyakan. Tidak lebih.' Bukankah yang diistimewakan hanya Tuhan?


Bisik Si A

          Aku menegakkan apa yang kusebut dengan prinsip. Aku mempunyai hak dan kewajiban, begitu pula kamu. Untuk itu, aku sangat menginginkan yang namanya privasi. Entah privasi dalam hal apapun. Aku juga berhak untuk memilih siapa saja teman yang kusuka, begitu pula teman-temanmu. Tak semuanya kusuka. Aku manusiawi, bukan? Aku bukan Tuhan.

          Aku memutuskan untuk tidak menikah. Atau mungkin tidak menikah dalam jangka waktu dekat. Mengingat tidak semua sikap dan sifatmu bisa kuterima. Aku hanya menikah pada orang yang sepaham denganku. Bukan yang -kejawen- sepertimu. Jika kehangatan keluarga tak ingin kau sesap, jangan ajak aku untuk berdingin durja. Aku tak ingin seumur hidupku berdingin-dingin dalam bungkaman kutub selatan yang bahkan belum pernah kau jelajahi.

          Selamat datang, pria lajang. Selamat datang di kehidupan seorang wanita yang sebenarnya tak ingin sendiri, namun ia enggan berbagi dengan "banyak". Selamat datang, tiga rumah dengan tuannya yang familiar. Selamat datang, Rumah kesatu! Pondok hidupku. Selamat datang, Rumah kedua! Hunian autismu.

          Selamat datang, Rumah ketiga! Tempat berteduh kita berdua, dan rahasia-rahasia kecil kita.

Sunday, 21 July 2013

Hey, You!!

          Hey, you!! Yes, you. Hahaha.. I remember the last time I left you. Just let you go without any words. And you came just a moment right after I got my new partner in life. Yeah, just now. Well, hey.. Why you just come such a way? You are reaaallyy clooossee to my -now- partner!! HELL!! :-D






           I never thought you would come after such a loooong time I just threw you away. And you feel soo disappointed by me, right? Of course, you have waited for times. :-)

          Now you have found your new 'life'. I don't know how lovely 'words' for you. But "Dahlia" after "Intan" is sooo sweet. Hehehe.. Your style just like my 'life' now. I don't want getting back to you, just wanna say: Congratulations, my dear hero. Start your new life yaa.. ^_^

Saturday, 20 July 2013

Me + God = Enough

Unless you want more than what you acquire, more than what you have, more than what you obsess.



If you need more, just call: MIRACLE.
It's upon God, right? ;-)



That's All We No Look at

See picture below:
Do you think it's all the girls want?

NO!!


          Life is not only fucked up with those glamour things and what so called as "position". Once you want the glory on your hand, forever it won't. Because life is IN your own hand. Just how you could realize it without breaking your own hand.

          I do want to be a princess of my own life. I do want to be a duchess of my own pretty small clean and warm house. I do want to be good lady to my great great grandchildren -later-. But, I do also want to have a man who has a high responsibility of his own. Knowing what is right for him, and furthermore for his family - as well as the society -.

         I do not live in a kingdom time. I do not want to jump on those decades where the wars existed everywhere, in which people look for POSITION. I just want to live happily. I just want to give birth and raise my children in a peaceful night or in a warm afternoon. I just want to live happily, with you -my dear partner whom I hardly find his soul these days.

          It's pretty simple. Don't take those people's saying you don't have a dam to pursue your dreams. Don't ever let those people stop you playing with your way out. Just find your own egress.




Dear, my lovely partner.., please do recognize: you are more than what you do these days.

Mencukupkan: Tuhan, Keplak Ia dengan Sandal-Mu

           Possessive, maunya menang sendiri, maunya diperhatikan terus, manja, tapi sok tegar, itu semua sifat-sifat yang tidak baik. Ditambah lagi dengan sifat keras yang sudah mendarah daging.

          Akhir-akhir ini aku mulai gila, capek, dengan segala sesuatu yang berbau "Nusantara". Atau yang minimal digaungkan dengan kalimat --> Persiapan Pembangunan Nusantara. Capek, karena memang konsepan mereka tidak jelas. Arahnya kemana juga ndak jelas. Dan yang makin bikin capek itu: My partner is involved there!!
       



          Aku nggak tau musti gimana. Berkata apapun yang kutahu juga percuma. Selalu ada alasan untuknya membolak-balikkan apa yang nyata dan tampak. Sudah bisa dipastikan; ia hanya belum bisa menerima kenyataan hari ini.

          Memang seharusnya aku berhenti mencampuri urusan hidupnya. Memang seharusnya aku berhenti mengontrol apa yang ia kehendaki. Memang seharusnya aku mencukupkan. Tapi, bukankah seharusnya pula ia mencukupkan?



Tuhan, keplak ia dengan sandal-Mu. Tolong. T.T

Wednesday, 1 May 2013

Selalu Ada Tempat untukmu Pulang

           Perempuan itu makhluk yang sungguh lucu. Tak mau disakiti, tapi memilih untuk diam saat sakit. Terus, yang laki-laki bisa bantu apa? :-D

Dududuh, gak kebayang. Ngurus rumah, ketambahan kerja, ditinggal kerja, nyoba ngerawat tubuh dan penampilan, belum sakit pre-mens tiap bulan, belum pas hamil, belum pas melahirkan.., and finally, ditinggal selingkuh.

Well, life is simply like this. Tersenyumlah.. Tersenyumlah. Perempuan ini selalu memberimu tempat untuk berpulang, wahai lelakiku.


Selalu ada maaf, untukmu.

Tuesday, 30 April 2013

Sebait Syair dari UJE Kepada Sang Bidadarinya

Isteriku.
Aku ingin tenang.

Biarkan aku tenang menghadap Khalik-ku,
Sudahi isakmu isteriku,
Aku tidaklah semu isteriku,
Bukankah berulangkali dulu kita membaca Hadist Rasulullah Shalallohu 'Alayhi Wasallam bahwa yang dinamai sabar itu adalah saat pertama kamu diberi ALLAH ujian?

Maka berhentilah menangis,
Suruhlah orang-orang itu untuk berhenti menanyakan kamu perihal suamimu,
Himbaulah mereka yang tidak mengerti itu untuk menjauhkan kamera dari wajahmu.
Itu membuat kamu dan membuat aku tidak tenang istriku.

Sampaikan terimakasih suamimu kepada mereka semua,
Siapa saja yang ikhlas berdoa untuk kebaikan aku disetiap waktu,
Cukuplah itu buatku.

Ketika kamu rindu,
Lihatlah anak-anakku,
Ketika kamu ingin kelak bertemu denganku,
Rawatlah dan didiklah anakku,
Berikan mereka tali buhul ALLAH,
Ikatkan mereka dengan itu,
Tuntunlah agama anak-anakku,
Seperti apa kehendak aku dahulu.

Isteriku..
Maafkan aku,
Maafkan telah meninggalkan beban dan amanah yang sangat berat disisimu.
Tidaklah ALLAH menimpakan sesuatu diluar batas kesanggupanmu.

ALLAH Maha Mengetahui.

Kamu itu mampu..

Ku nanti kamu dan anak-anakku dipintu syurga.


Aamiin.